Memeluk Ruang Sakral di Hutan Suranadi Lombok

Wisata —Selasa, 24 Aug 2021 10:19
    Bagikan  
Memeluk Ruang Sakral di Hutan Suranadi Lombok
Sumber gambar: http://bksdantb.org/balai-ksda-ntb-potensi-wisata-twa-suranadi-5/

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

Berkunjung ke Hutan Wisata Suranadi, selain untuk melepaskan lelah di bola mata dengan melihat ragam tumbuhan dan pepohonan yang menghijau, juga bisa tentunya merawat nilai ragam spiritualitas kita. Misalnya dengan memahami secara tidak langsung akan ragam aneka kekentalan ibadah umat Hindu. Memeluk suasana di sana yang bagaimanapun bisa dibilang sakral, adem tentrem, dan penuh keramah-tamahan. Terutama kalau ketika mau berkunjung ke tiga buah pura yang ada di area hutan wisata tersebut.


Pura di Hutan Wisata Suranadi ini tentunya masih digunaka oleh umat Hindu untuk melakukan uapcara puja dan sembahyang mereka. Adapula sebuah kolam yang tidak kalah ramai dan ingin sekali dikunjungi alhasil menarik perhatian para pelancong yang datang kemari, yang digadang-gadang juga merupakan sebuah kolam atau pemandian suci umat Hindu yang sakral. Kolam ini juga kerap disebut sebagai sumur mata air bagi masyarakat Hindu Lombok di sana.
Mengapa kolam tersebut dianggap sakral? Benar, alhasil kolam ini atau sumber mata air ini dipercaya tidak pernah keting sekalipun airnya sering dipakai oleh masyarakat setempat untuk ebrbagai hajat dan keperluan. Lebih dari itu, tidak lengkap juga rasanya jika sudah sampai di kolam ini kita tidak singgah sebentar di sebuah pura dari tiga pura yang ada di sana. Terutama ada satu buah purayang sangat memiliki karakter unik, berbeda dengan dua pura yang lainnya, tepat sekali! Ia adalah Pura Suranadi. Hal yang membautnya cukup unik dan estetik dibandingkan dua pura yang lainnya adalah karena pura ini memiliki lima buah pancuran suci yang secara langsung sungguh dan benar-benar berasal dari Gunung Rinjani. What a great bless! Adapun untuk nama pancuran itu sendiri kerap sekali disebut sebagai Pancuran Tirta. Kelima pancuran–pancuran itupun sering sekali dipercayai oleh masyarakat setempat mampu untuk menyembuhkan beragam jenis penyakit, alhasil hal itulah yang sukses merekam jejak para pelancong untuk mengerubungi layaknya semut yang ingin tahu apa rasanya gula–gula.

Baca juga: Sejuknya Udara di Taman Wisata Alam Suranadi Lombok

Baca juga: Kota Tua Ampenan Lombok adalah Kota Pusaka Bangsa

Baca juga: Mencintai Seni di Desa Banyumulek Lombok

Sumber gambar: http://bksdantb.org/balai-ksda-ntb-potensi-wisata-twa-suranadi-5/


Nah, adapun untuk air yang dipercayai bisa menyembuhkan beragam penyakit inipun disebut sebagai air Ngentas Male. Bahkan konon dipercayai juga, bahwa apabila kita meminum air dari pancuran ini, yakni air Ngentas Male, maka bersiaplah untuk mendapatkan sebuah fase kehidupan baru yang lebih baik. Hal ini dipercayai begitu, karena ketika meminum air ini ibarat kita itu sedang berupaya menyucikan diri kita melalui air yang masuk tersebut ke dalam tubuh. Setelah sejumlah pernyataan dan kepercayaan setempat dikulik lagi, nyatanya pancuran sacral di pura ini memang juga terhubun dengan para penyebar agama Hindu di Lombok, dan salah seorang di antaranya ialah yang bernama Dang Hyang Nirlata.
Hal yang juga perlu kita ketahui adalah bahwa Pura Suranadi ini memiliki beberapa pancuran lain di sekitarnya, yaitu sebagai berikut:
Pancuran “Air Suci Pembersih”
Pancuran “Air Suci Petirta”
Pancuran “Air Suci Pelukatan”
Pancuran “Air Suci Pengentas”

Baca juga: Hemlock Water Dropwort, si Putih Cantik yang Mematikan

Baca juga: Resep Makanan,Cara Membuat Asinan Kedondong Asam, Manis, Segar

Baca juga: Berpetualang di Hutan Lindung Sesaot Lombok


Adapun jika Sobat dePost Lombok mau belajar dan menyaksikan ragam corak kekentalan budaya Lombok lainnya terutama di areal pura ini atau ya di kawasan Hutan Wisata Alam Suranadi, tentunya Sobat dePost Lombok bisa juga datang ketika bulan Oktober dan November. Mengapa di kedua bulan tersebut? Sebab, pada kedua bulan tersebut akan diselenggarakannya sebuah ritual adat yang tidak kalah sacral, bernama Sasih Kapat. Dan tentu, uniknya ritual Sasih Kapat ini memang ditentukan saat bulan purnama bertengger di langit Lombok.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait