Danau Tebesar di Indonesia dan ke indahnya

Wisata —Jumat, 30 Jul 2021 10:08
    Bagikan  
Danau Tebesar di Indonesia dan ke indahnya
image/pinterest

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK 

Halo sobat alam nih kali ini mimin mau ngasih tau danau terbesar di Indonesia dan terbentuk karena kenapa yaa danau nya dari pada penasaran mending kepoin yu

1. Danau Toba
Danau Toba adalah sebuah fenomena. Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Asal-usul Terbentuknya Danau Toba Adalah Sebuah Fenomena
Asal-usul Terbentuknya Danau Toba Adalah Sebuah Fenomena
Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang, Berastagi dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru.


Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan laut. Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia.


Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.


Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India.


Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya. Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul.


Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang-belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba. Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia.


Ini berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi Danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.

Baca juga: Rafi Ahmad Covid dan Sembuh 2 Hari, Begini Kronologi dan Respon Kemenkes


2. Danau Towuti
Danau Towuti merupakan salah satu danau yang bisa Anda singgahi memiliki keindahan alam yang akan membuat takjub dan tentu saja akan memanjakan mata Anda. Bagi Anda yang ingin berkunjung ke sana, ada baiknya Anda menyimak ulasannya berikut ini.
Danau satu ini terkenal karena keindahan alam yang disuguhkannya. Di sini nantinya Anda akan bisa melihat dan menikmati fenomena matahari terbenam yang sangat luar biasa. Danau yang memiliki luas yakni mencapai 56,1 hektar ini juga memiliki kedalaman mencapai 200 meter. Dengan luas yang melebihi 50 hektar ini tak heran jika membuat danau satu ini dijuluki sebagai danau kedua yang paling luas setelah danau Toba yang berada di Sumatera Utara.


Para ahli pun juga menyebutkan bahwa danau Twuti ini merupakan tempat sejarah bagi iklim di Indonesia. Tak hanya itu saja, danau ini pun memiliki keunikan lainnya yakni dengan adanya keberadaan tiga pulau. Dari masing-masing pulau tersebut yakni bernama Pulau Bolong, Pulau Loeha, dan juga Pulau Kembar. Pulau yang paling besar diantaranya pulau ketiga adalah pulau Loeha yang menjadi habitat dari beberapa jenis fauna yang ada.


Karena memiliki tempat yang sangat luas tersebut, maka danau ini pun juga memiliki 26 spesies endemik Sulawesi yang mendiami kawasan danau tersebut. Selain itu, bagi Anda yang ingin mengunjungi danau satu ini maka Anda nantinya tidak akan dipungut biaya masuk. Sehingga nantinya dana tersebut hanya bisa Anda alokasikan untuk biaya transportasi dan juga biaya makan.
Untuk Anda yang ingin liburan akhir pekan Anda disini, maka ada beberapa alternatif transportasi yang bisa Anda gunakan untuk Anda. Perjalanan untuk menuju danau Towuti yang ada di Wasuponda ini akan memerlukan waktu sekitar kuranglebih 30 menit dari kota Soroako. Disini pun Anda nantinya bisa menggunakan mobil sewa.


Bagi Anda yang ingin membawanya dengan angkutan udara, maka Anda pun bisa menggunakan pesawat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ke Kabupaten Maros yang akan menempuh perjalanan sekitar kurang lebih selama 1 jam. Selain itu, tepat di seberang bandara Soroako ini juga terdapat terminal bus dari kota Makassar dan kota lain yang sedang parkir.


Jadi nantinya, Anda pun bisa menggunakan bus umum yang berangkay dari kota Makassar, tepatnya melalui Terminal Daya yang berada di Makassar dengan mengambil rute Soroako. Nantinya Anda pun akan menghabiskan waktu selama perjalanan darat yakni selam kurang lebih 13 jam.

Baca juga: Bangunan dan Monumen Bersejarah


3. Danau Ranau
Danau Ranau adalah salah satu keindahan alam yang tersembunyi di pegunungan Bukit Barisan, di Pulau Sumatera. Air danau yang bersih dan berlimpah dengan latar belakang Gunung Seminung yang cantik menciptakan pemandangan alam nan elok.


Terbesar Kedua di Sumatera

Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Pulau Sumatera, setelah Danau Toba. Dengan luas 125 kilometer persegi, perairan danau ini membentang menyatukan dua provinsi. Sepertiga bagian masuk wilayah Lampung Barat. Dua pertiga bagian masuk wilayah Ogan Komering Ulu Selatan.


Tiga Rute Perjalanan
Untuk menikmati keindahan danau yang tersembunyi di pegunungan Bukit Barisan ini, kita bisa naik kendaraan selama 7sampai 9 jam dari kota Bandar Lampung atau dari Palembang.


Kalau dari Palembang, kita bisa menempuh rute Prabumulih, Muaradua, Sukamarga, lalu menuju danau. Sedangkan dari Bandar Lampung, kita bisa mengikuti rute Kotabumi, Bukit Kemuning, Liwa, Sukamarga, lalu ke danau.


Sedangkan dari Bengkulu, kita bisa mengikuti rute Bintuhan, Krui, Liwa, Sukamarga, lalu ke danau.


Gunung Seminung

Danau Ranau dikelilingi oleh sawah-sawah dan kebun kopi yang subur. Untuk bermain di tepi danau, kita bisa masuk melewati kompleks Villa Pusri. Di sini, kita bisa duduk-duduk di dermaga sambil memandangi Gunung Seminung yang indah.

Gunung Seminung merupakan gunung berapi yang sudah lama mati. Dengan bentuk kerucut dan ketinggian 1.880 meter, gunung ini terlihat mempercantik keindahan Danau Ranau. Lerengnya yang subur dimanfaatkan penduduk Lampung dan Komering untuk menanam kopi, lada, sayuran, dan palawija.


Dari dermaga Pusri, kita juga bisa menyewa perahu ke Pulau Meriza atau ke sumber air panas di kaki Gunung Seminung. Dari dermaga ini kita juga juga bisa berlayar ke utara, menuju Villa Pusri Varita di Batu Raja.


Danau yang Dalam

Danau Ranau adalah danau yang sangat dalam. Menurut hasil penelitian kedalaman danau ini rata-rata 174 meter. Dasar danau paling dalam mencapai 229 meter.

Baca juga: Pemain Bola Terkaya di Dunia


Danau Ranau memang bukan danau biasa. Danau ini terbentuk ribuan tahun yang lalu melalui proses tektonik dan vulkanik. Tektonik merupakan gerakan lempeng benua. Sedangkan vulkanik merupakan aktivitas magma atau gunung berapi. Oleh karena itu Danau Ranau sering disebut danau tekto-vulkanik.

Awalnya adalah Rekahan

Bagaimana terbentuknya Danau Ranau pada zaman dulu? Awalnya, akibat pergerakan lempeng benua, tanah di tempat ini merekah sehingga membentuk cekungan besar dengan panjang 17 km dan lebar 12 km. Dari dalam rekahan perut bumi ini muncul gunung-gunung berapi purba yang terus aktif selama berabad-abad.


Kaldera Raksasa

Kira-kira 55 ribu tahun yang lalu, gunung berapi purba ini meletus dahsyat. Jutaan meterial terlempar keluar sehingga membentuk kaldera raksasa. Kekuatan dapur magma yang masih aktif dan tersisa akhirnya melahirkan gunung baru, yaitu Gunung Seminung di sisi selatan.


Ribuan tahun kemudian, tanah subur di sekitar danau telah menjadi hutan lebat. Mata air muncul dari celah-celah perbukitan, lalu membentuk sungai-sungai. Sungai-sungai itu lalu mengisi kaldera raksasa tersebut sehingga terbentuklah danau raksasa, Danau Ranau


4. Danau Singkarak
Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Jika para wisatawan yang ingin menikmati keindahan panorama Danau ini, ada beberapa titik yang perlu di singgahi yakni di Daerah Kenagarian Kacang, Paninggahan, Malalo dan Pitalah.


Menurut penduduk setempat ada sebuah cerita yang turun temurun di”kaba” kan tentang asal mula terbentuk nya Danau Singkarak. Bagaimana terbentuk nya Danau Singkarak? Kita simak dibawah ini mengenai Legenda Terbentuknya Danau Singkarak

Baca juga: Bikin Gagal Fokus Netizen, Ini Fakta Unik Rumah Baru Milen Cyrus


Pada zaham dahulu kala, di sebuah taratak kecil di nagari Minangkabau, menetaplah keluarga Pak Buyung. Pak Buyung tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir sawah bersama istri dan seorang putra. Putra pak Buyung masih kecil , Ia bernama Indra. Sehari-harinya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan.


Indra sering membantu kedua orang tuanya ke hutan maupun ke laut. Hal ini membuat bangga kedua orang tuanya. Namun, ada hal yang membuat mereka risau. Dalam sekali makan, Indra dapat menghabiskan setengah bakul nasi dengan lauk beberapa piring.


Suatu ketika, musim paceklik datang. Keluarga Pak Buyung pun harus berhemat. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau yang lain. Kesulitan mendapatkan makanan membuat mereka hampir berputus asa.


“Ayah, aku sangat lapar,” keluh Indra.

“Kalau lapar, carilah makanan ke hutan atau ke laut!” seru sang Ayah. “Kamu memang masih anak-anak, tapi makanmu banyak.”



Sang Ibu pun membujuk Indra agar berangkat ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil hutan di Bukit. Indra menurut. Sebelum berangkat, ia memberi makan ayam piaraannya yang bernama Taduang. Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap Indra pulang, Taduang selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.


Menjelang siang, Indra pulang tanpa membawa hasil. Setelah beristirahat, ia pergi ke laut untuk mencari ikan. Tak lama setelah itu, sang Ibu juga berangkat ke sebuah Tanjung, agak jauh dari tempat India mencari ikan.

Baca juga: Jadi Tempat yang Dikeramatkan, Inilah Sejarah Makam Loang Baloq


Sore hari, sang Ibu pulang membawa banyak kerang. Kemudian, kerang itu diolah menjadi makanan.

“Wah, harum sekali aromanya,” puji sang Ayah. “Bu, apakah kerang ini cukup untuk kita makan bertiga? Indra kan makannya banyak.”

“Apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya sang Ibu.


“Bagaimana kalau kita makan diam-diam?” saran sang Ayah. Sang Ibu pun mengangguk. Lalu, keduanya menyantap kerang itu dengan lahapnya.

Menjelang malam, Indra pulang. Indra sangat kelaparan. Begitu masuk, ia menuju dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orang tuanya tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan kulit kerang.


Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil menangis. Melihat kesedihan Indra, Taduang pun berkokok berkali-kali,lalu mengepak-ngepakkan sayapnya. Beberapa saat kemudian, Taduang terbang ke udara. Indra segera berpegangan pada kaki Taduang. Saat tubuh India terangkat, batu ternpat Indra duduk ikut terangkat dan membesar. Kemudian, batu itu melesat dan menghantam salah satu bukit di sekitar laut. Hantaman itu membentuk lubang memanjang. Dengan cepat, air laut mengisi lubang itu sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin. Semakin lama, air laut semakin menyusut dan berubah menjadi Danau Singkarak.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait