Nomor Punggung: antara Ikon dan Angka Keramat

Sepak Bola —Kamis, 9 Sep 2021 12:26
    Bagikan  
Nomor Punggung: antara Ikon dan Angka Keramat
Nomor Punggung: antara Ikon dan Angka Keramat/ Pinterest

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

Oleh: Amir Machmud NS


TAHUKAH Anda, nomor punggung bukan hal sembarangan bagi pemain bola? Urusannya bisa menyangkut kemantapan penampilan, kepercayaan diri, dan “suntikan spiritualitas”. Dari elemen-elemen itu bisa tercipta “magi” inspirasi dalam bermain dan permainan tim secara keseluruhan.
Maka sempat muncul perdebatan ketika Cristiano Ronaldo “pulang” ke rumah sejatinya, Manchester United. Akankah kapten tim nasional Portugal itu mendapatkan kembali jersey bernomor ikoniknya, 7?

Untungnya, pemegang nomor tersebut Edinson Cavani tidak menciptakan drama konfliktif untuk mempertahankan. Nomor “keramat” MU itu akhirnya kembali ke punggung Ronaldo, setelah satu musim kemarin Cavani mengenakan dengan penuh kebanggaan. Dengan bukti kiprah selama satu periode, dia pun sebenarnya dinilai pantas menjadi pemiliknya.


Seperti sebuah kebetulan, pemain asal Uruguay tersebut mendapatkan pengganti, jersey 21 sebagai nomor punggungnya di tim nasional. Daniel James, pemain MU yang sebelumnya memakai nomor 21, menjelang penutupan jendela transfer hijrah ke Leeds United.
Ronaldo memang identik dengan nomor 7, dengan predikat mediatika “CR7”. Saat pindah ke Real Madrid pada 2009, dia sempat harus “menunggu” untuk memperoleh nomor tersebut, yang identik dengan “Pangeran Madrid” Raul Gonzales. Ronaldo mengenakan nomor 9 sebelum Raul meninggalkan Los Blancos.

Baca juga: Resep Makanan Donat Rumahan Anti Ribet

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok Jumat 10 September 2021, Scorpio Memaksakan Kehendak, Leo Mempertimbangkan Apa yang Dia Rasakan

Baca juga: Ramalan Zodiak Hari Ini Kamis 9 September 2021, Gemini Mencari Pekerjaan Lain, Virgo Butuh Donasi

Di Old Trafford, nomor 7 betul-betul diistimewakan. Tak sembarang pemain mampu menyangga "magi"-nya. Catatlah Alexis Sanches, Memphis Depay, Antonio Valencia, Angel Di Maria, dan Michael Owen yang tak semoncer pemilik identik kostum itu.
George Best-lah yang mula-mula menciptakan mitos, disusul Bryan Robson, Eric Cantona, David Beckham, Andrei Kanchelskis, lalu Ronaldo. Alex Ferguson dinilai mengambil keputusan visioner ketika pada 2003 menyerahkan nomor 7 itu kepada Ronaldo yang didatangkan dari Sporting Lisbon. Ronaldo sebenarnya mengincar nomor 28, namun Sir Alex punya intuisi kuat tentang masa depan bocah Portugal itu, yang terbukti meneruskan kehebatan Best dan Cantona.

Sementara itu, Bryan Robson yang pernah disebut-sebut sebagai kapten paling istimewa di MU dan dijuluki “Kapten Marvel” seperti tokoh komik superhero, lekat dengan nomor 7 bahkan hingga dia pindah ke West Bromwich Albion. Secara reguler Robson juga mengenakannya sebagai kapten tim nasional Inggris.
Nomor 10 BrazilLain di MU, lain pula keramat nomor punggung di Brazil. Sejak Pele menjadi identik dengan nomor sempurna itu, siapa pun bintang yang mengenakan kostum itu dianggap (harus) memiliki faktor pembeda.


Setelah era Pele muncullah Rivelino, Zico, Rivaldo, Ricardo Kaka, dan Ronadinho. Deretan si nomor 10 itu memiliki kemampuan individual yang eksepsional. Apalagi Brazil adalah negara sepak bola dengan kultur teknis bermain yang bernuansa seni.
Pele adalah “raja”, sementara Rivelino pemimpin elegan dengan umpan-umpan doktrinal. Selanjutnya, Zico ibarat penari samba dengan visi mengatur ritme. Rivaldo meneruskan dengan karakter sebagai pengendali lini tengah. Kaka menjadi “reinkarnasi” Zico, dan Ronaldinho hadir dengan “sepak bola gembira”, mirip pemain sirkus dengan keajaiban-keajaiban gocekan bolanya.

Baca juga: Wisata Seru dan Megesankan, Saloka Theme park Pilihannya

Baca juga: Drama Korea Police University Episode 7 Sub Indo, Foto Keluarga yang Hancur

Baca juga: Ini Dia Berbagai Olahan Pisang yang Enak dan Menggoyang Selera


Di Argentina, nomor 10 dianggap sebagai simbol kemampuan dan kepemimpinan di timnas. Dari Mario Kempes (walaupun pernah memakai nomor 21 dan 13), Diego Maradona, Juan Roman Riquelme, hingga Lionel Messi sekarang.
Italia pun memitoskannya. Roberto Baggio, Alessandro Del Pierro, dan Francesco Totti merupakan sederet fantasista, sosok yang mendapat kebebasan mengembangkan imajinasi permainan. Hanya satu pemain nomor 10 yang tidak berkarakter fantasista, yakni Thiago Motta. Di Euro 2016, pelatih Antonio Conte dianggap keluar dari bingkai tradisi, ketika memercayakan nomor 10 kepada Motta yang notabene adalah gelandang bertahan.
Di Prancis, nomor 10 menjadi spesial ketika Michael Platini dan Zinedine Zidane mengenakannya. Apalagi ketika keduanya memimpin timnas sebagai kapten-kapten eksepsional. Kostum nomor 10 menjadi berkarisma karena peran Platini dan Zidane.

Di tingkat klub, angka 10 juga dispesialisasikan di Bayern Muenchen. Nomor itu kini dipakai Leroy Sane. Sebelumnya, Philippe Coutinho mendapat kehormatan dalam masa peminjaman dari Barcelona. Nama-nama legendaris Stefan Effenberg, Mehmet Scholl, Lothar Matthaeus, Roy Makaay, dan Arjen Robben pernah menjadi pemiliknya.
Mitos memang akan tetap ada, selalu ada, dan mewarnai peradaban yang serasional apa pun. Bukankah sejatinya itu bumbu mediatika di tengah industri budaya pop? Sepak bola mengemas dengan caranya sendiri, sengaja mengabadikan atmosfer itu dengan menciptakan magi, suasana, kepercayaan, dan kerbergantungan.
Bagi fans Manchester Merah, menanti kiprah Cristiano Ronaldo dengan nomor punggung 7 tentulah merupakan momentum yang menimbulkan sensasi tersendiri. CR7 telah kembali!

-- Amir Machmud NS, wartawan senior, kolumnis sepak bola, dan penulis buku.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait