Sejarah Tarian tradisional Indonesia

Pendidikan —Sabtu, 31 Jul 2021 10:04
    Bagikan  
Sejarah Tarian tradisional Indonesia
Tari Piring

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK 

Siapa yang suka nonton tarian tradisional, pasti pada suka banget nonton, karena itu merupakan salah satu warisan budaya kita yang wajib ada kita kembang, ngomongin tarian tarian apa aja yaa yang akan mimin bahas


1. Tarian Tor tor
Tari Tor Tor adalah tarian perayaan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Asal tarian ini adalah dari daerah Batak Toba, Sumatera Utara. Berdasarkan sejarah, tarian ini awalnya merupakan tari ritual dan sakral yang dipentaskan pada upacara kematian, kesembuhan, dan sebagainya.


Seiring perkembangan zaman dan masuknya budaya Hindu-Budha, maka tarian ini memperoleh pengaruh dan berkembang tidak hanya sebagai tarian upacara. Tari Tor Tor kemudian digelar sebagai hiburan dan tontonan warga Batak. Selain itu, busana tradisional yang dikenakan penari Tor Tor juga berubah dan mengalami modifikasi agar lebih menarik.

Saat menarikan tarian ini, para penari akan diiringi oleh musik gondang. Musik ini akan menghasilkan suara hentakan kaki penari diatas panggung.

Tarian Tor Tor adalah tari daerah Batak yang mengandung makna komunikasi. Selain itu, tari ini juga mempunyai 3 pesan spiritual, yaitu pesan kepada Tuhan.


Sejarah Tari Tor Tor
Tarian ini diperkirakan telah ada sejak zaman Batak purba. Pada masa itu, tarian tor tor dijadikan sebagai tari persembahan bagi roh leluhur. Nama tari ini berasal dari kata tor tor, yaitu bunyi hentakan kaki penari di lantai papan rumah adat Batak.


Ada pendapat dari seorang praktisi dan pecinta tari tor tor, bernama Togarma Naibaho. Beliau memberikan pendapat bahwa tujuan tarian ini dulunya adalah untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, hiburan atau pesta muda-mudi. Selain itu, sebelum melaksanakan tarian harus melalui ritual tertentu.


Hingga saat ini belum ada literatur ilmiah yang menjelaskan sejarah tari tor tor serta gondang sembilan yang mengiringinya. Akan tetapi menurut Edi Setyawat, Guru Besar Tari dari Universitas Indonesia, telah ada catatan dari zaman kolonial yang mendeskripsikan perjalanan tarian tortor.

Meski berasal dari Batak, ternyata jika ditelusuri tarian ini mendapat pengaruh dari India, bahkan lebih jauh lagi tarian ini juga memiliki kaitan dengan budaya Babilonia.

Ada pendapat yang memperkirakan jika tari tor tor ada sejak abad ke-13 Masehi dan telah menjadi bagian dari kebudayaan Batak. Pendapat ini disampaikan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara periode 1973 hingga 2010, sekaligus pakar tor tor.

Baca juga: Klub klub sepakbola yang terkenal di Inggris


Perkembangan awal tarian ini dulunya hanya di kehidupan masyarakat Batak di kawasan Samosir, Toba dan sebagaian kawasan Humbang. Dalam praktiknya, tarian tor-tor juga melibatkan beberapa patung batu yang telah dimasuki roh dan patung tersebut akan “menari”.


Kemudian tari tor tor mengalami transformasi seiring masuknya agama Kristen di kawasan Silindung. Saat itu, budaya tor-tor lebih dikenal sebagai kesenian nyanyian dan tari modern.


Tarian tor tor di Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau pahae do mula ni tumba. Dari sinilah tari tor tor tidak lagi berkaitan dengan roh dan unsur gaib lain, akan tetapi menjadi perangkat kebudayaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Batak.


Penyajian Tari
Secara sederhana, tor tor adalah sebuah tarian. Akan tetapi lebih dari itu, tor tor juga merupakan media komunikasi. Hal ini nampak melalui gerakan yang dipentaskan melibatkan interaksi antar partisipan upacara


sebelum membuka acara maka tuan rumah atau Hasuhutan akan melakukan ritual khusus yang disebut Tua ni Gondang. Pada acara ini, seorang dari hasuhutan akan mengajukan permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata sopan dan santun, misalnya “Amang pardoal pargonci”:

“Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”

“Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon.”

“Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”


Setiap menyelesaikan satu permintaan akan diselingi dengan pukulan gondang dengan ritmen tertentu. Apabila permintaan dilaksanakan dengan baik, selanjutnya anggota keluarga suhut akan bersiap dan mengatur susunan berdiri untuk menari atau manortor.

Adapun jenis lagu yang akan dimainkan adalah lagu-lagu dengan tema permohonan kepada Dewa dan roh leluhur agar seluruh anggota keluarga diberi keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan, limpahan rezeki, dan harapan upacara adat dapat menjadi sumber berkat baki keluarga dan para tamu.

Baca juga: Tradisi Pemakaman yang Unik di Setiap Daerah


Ada keunikan dalam upacara tortor, yaitu adanya banyak pantangan yang tidak boleh dilanggar saat manortor. Misalnya tangan penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu. Jika hal tersebut dilanggar, maka dapat diartikan bahwa penari menantang siapapun dalam ilmu perdukunan, moncak atau pencak silat, atau adu tenaga dalam, serta lainnya.



Gerakan Tari Tor Tor
Tarian tor tor mempunyai gerakan yang sangat sederhana, sehingga mudah untuk dipelajari. Bahkan bagi orang yang pertama kali mencobanya akan langsung bisa memainkannya.


Gerakan tari ini terbatas apda gerakan tangan melambai naik turun secara bersamaan. Kemudian ada pula gerakan hentak kaki sesuai dengan alunan musik mangondangi atau gondang.


Musik Pengiring
Tari tor tor adalah tarian asal Batak yang dilakukan dengan iringan atau tabuhan alat musik tradisional Sumatera Utara yang disebut Mangondangi. Mangondangi terdirid ari 9 jenis alat musik, seperti gondang, tagading, terompet khas Batak, suling, sarune, kaleem hesek, odap gordang, ogunf, doal, oloan dan panggora.


2. Tarian Piring
Tari Piring adalah seni tari tradisional Minangkabau yang menggunakan piring sebagai properti utama atraksinya. Dalam bahasa Minangkabau, tari ini disebut dengan tari piriang.

Dilansir laman Kemendikbud, tari piring diperkirakan telah ada sejak abad ke-12. Kala itu, masyarakat Minangkabau masih menyembah dewa-dewa. Tari piring diperuntukkan sebagai tarian persembahan bagi dewa atas hasil panen yang berlimpah.


Sejarah Tari Piring, Tarian yang Dilakukan Susi Pudjiastuti di Atas Beling
Ritual ini dilakukan dengan membawa sajian makanan yang diletakkan di dalam piring, sambil melangkah dengan gerakan tertentu. Setelah Islam masuk ke Nusantara, tari piring tidak ditinggalkan begitu saja. Fungsinya bergeser, dari yang sebelumnya sebagai persembahan untuk dewa, kini banyak dipertontonkan sebagai hiburan, khususnya di acara pernikahan.


Biasanya, piring yang digunakan adalah piring porselen yang dihiasi ukiran di bagian sampingnya. Dalam pertunjukan, piring tersebut akan dijentikkan dengan cincin khusus sehingga menimbulkan suara khas.

Tarian ini merupakan tarian penghibur dan parintang atau pengisi waktu kosong. Selain itu juga disebut tari pergaulan, karena dimainkan oleh muda-mudi secara berkelompok.

Baca juga: WAW! Ini Dia Beberapa Perusahaan yang membanggakan Indonesia


Gerakan Tari Piring
Setiap gerakan di dalam Tari Piring memiliki makna dan filosofi tersendiri. Tarian ini biasanya ditampilkan oleh penari yang berjumlah ganjil, yakni tiga hingga tujuh orang penari. Pakaian yang digunakan penari adalah pakaian berwarna cerah, seperti merah dan kuning keemasan.

Sejarah Tari Piring, Tarian yang Dilakukan Susi Pudjiastuti di Atas Beling
Ilustrasi tari piring, Tarian khas Sumatera Barat
Saat mementaskan tari piring, penari pria akan mengenakan destar. Destar adalah penutup kepala berbentuk segitiga yang terbuat dari kain songket.


Sedangkan penari perempuan akan mengenakan penutup kepala dari kain songket yang bentuknya mirip seperti tanduk, yaitu tikuluak tanduak balapak.

Musik yang mengiringi tari piring berasal dari berbagai instrumen, seperti rebana, saluang, talempong, dan lain-lain. Tempo alunan musik awalnya lembut, kemudian lama-kelamaan berubah menjadi lebih cepat.


Gerakan tari piring dimulai dengan meletakkan dua buah piring di atas kedua telapak tangan. Kemudian, piring-piring tersebut diayunkan secara cepat tanpa terlepas dari genggaman tangan mengikuti irama musik.

Sesekali penari juga mendentingkan piring dengan cincin yang tersemat di jari mereka. Gerakan tari piring kebanyakan menggambarkan proses pertanian, seperti gerak pasambahan, singajuo lalai, gerak mencangkul, gerak menyiang, mengantar juadah, dan lain-lain.


Pertunjukan yang paling menarik dari tarian ini adalah pada saat penarinya melemparkan piring ke atas, yang menggambarkan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah. Lalu piring tersebut akan jatuh dan pecah ke lantai, menyebabkan pecahan kacanya tersebar di sekitar penari.


Sejarah Tari Piring, Tarian yang Dilakukan Susi Pudjiastuti di Atas Beling
Ilustrasi tari piring, Tarian khas Sumatera Barat
Salah satu hal yang sangat menarik dalam tari piring adalah penari yang menari-nari di atas pecahan piring, tanpa merasa kesakitan dan tetap meliuk-liukkan tubuhnya hingga musik berhenti. Hal tersebut dapat dilakukan, karena sebelum beraksi si penari harus berkonsentrasi penuh dan mensugesti otaknya bahwa pecahan kaca tersebut terlihat seperti lumut.


Atraksi yang ditampilkan dalam tarian khas Kota Jam Gadang ini memang serupa dengan debus. Yakni bergulingan di atas pecahan kaca, menusuk bagian tubuhnya dengan senjata tajam, memukul tubuh dengan kayu dan rotan, serta menari di atas sebuah kelapa.

Baca juga: Makna Motif Batik Indonesia yang Memiliki Banyak Sejarah


Pola Lantai Tari Piring
Seperti tarian pada umumnya, tari piring harus dilakukan dengan pola lantai atau pola garis lintasan tarian. Terdapat paling tidak enam pola lantai yang digunakan dalam tari piring, yakni spiral, berbaris, lingkaran besar dan kecil, vertikal, dan horizontal.


3. Tari Kecak
Tari Kecak Konon ceritanya, tarian tradisional satu ini diciptakan oleh salah seorang seniman Bali yang bernama Wayan Limbak pada tahun 1930-an. Dulu beliau mengenalkan tarian ini bukan hanya seorang diri, melainkan dibantu oleh pelukis ternama asal Jerman bernama Walter Spies.

Tarian unik ini sendiri tercipta lantaran Walter Spies sangat tertarik dengan ritual tradisional selama tinggal di Bali.


Yang mana diangkat dari tradisi Sanghyang dan beberapa bagian dari kisah Ramayana. Sementara asal usul nama tarian ini berasal dari ucapan penari yang berteriak “cak cak cak” saat menari.

Seperti yang telah disebutkan, Tari Kecak berasal dari provinsi Bali yang namanya dipengaruhi oleh suara gemerincing ornamen yang dikenakan oleh para penari di pergelangan kakinya.


Alunan musik yang mengiringi tarian ini berasal dari suara krincingan tersebut. Suara khas tersebutlah yang menjadi daya tarik tersendiri.

Wayan dan Walter berdiskusi menciptakan tarian semenarik dan secantik mungkin, lalu mempopulerkannya hingga kancah internasional. Bahkan tak jarang masyarakat setempat menampilkan Tari Kecak dikala menyambut tamu besar.

Awalnya, tarian ini hanya dipentaskan di beberapa desa saja salah satunya ialah Desa Bona, Gianyar.

Seiring berjalannya waktu, pertunjukannya semakin berkembang hingga seantero Bali dan selalu dijadikan tampilan andalan ketika ada kegiatan besar, seperti festival yang kerap dilaksanakan oleh pihak pemerintah maupun swasta.

Baca juga: Minuman Minuman Tradisional


Makna dan Filosofi dari Tarian Kecak
Tarian asal Pulau Bali ini bukan hanya sekedar gerakan badan semata, melainkan ada kisah dibaliknya yang cukup bermakna. Ketika penari yang memerankan Rama dan Shinta memasuki panggung, maka awal mula kisah telah dimulai.

Kemudian dilanjutkan dengan diculiknya Shinta oleh Rahwana. Hingga akhirnya Rahwana bertarung dengan Jatayu dan Hanoman menyelamatkan Shinta. Dalam proses penyelamatan tersebut, Hanoman memporakporandakan tempat penyekapan Shinta dengan cara membakarnya.

Akan tetap, Hanoman justru terkepung oleh prajurit Rahwana dan hampir saja terbakar. Awalnya, Rama memang alami kekalahan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan kesungguhannya untuk menyelamatkan permaisurinya, Shinta.


Raja Rama pun berdoa dengan sungguh dan kembali lagi berusaha membawa kembali sang permaisuri. Akhirnya, Rama berhasil mendapatkan Shinta dalam kondisi yang selamat.

Dari kisah tersebut, terdapat makna Tari Kecak yang cukup mendalam. Yakni adanya kepercayaan terhadap kekuatan Tuhan yang mana hal ini dicerminkan pada tindakan Rama ketika meminta pertolongan pada Dewata.

Hal semacam ini memberikan pelajaran jika tarian ini dipercaya sebagai ritual mendatangkan dewi yang sanggup mengusir segala marabahaya, baik itu penyakit atau bencana yang menimpa warga.


Sedangkan pesan moralnya, Tari Kecak mencerminkan perilaku Rama terhadap permaisuri kesayangannya yakni Shinta. Serta Burung Garuda yang rela mengorbankan sayapnya demi Shinta.

Meskipun Tari Kecak tidak diiringi oleh musik ataupun gamelan, namun gerakannya tetap terlihat sangat kompak dan enerjik. Di mana setiap gerakan yang dilakukan sesama penari sangat seirama dan memiliki nilai seni tinggi.

Tarian ini pun tak hanya ditujukan bagi penganut agama Hindu semata, pasalnya non-Hindu masih bisa menikmatinya dengan baik.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait