Tradisi Pemakaman yang Unik di Setiap Daerah

Pendidikan —Jumat, 30 Jul 2021 14:05
    Bagikan  
Tradisi Pemakaman yang Unik di Setiap Daerah
image/pinterest

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK 

Hai, sobat Depost Lombok, jadi kali ini mimin mau bahas tradisi pemakaman yang ada di Indonesia wahh kalian penasaran gak yuk kita liat


1. Batu Lemo
LEMO, destinasi populer yang ada di tana toraja sudah terkenal di kalangan turis, kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini memang terkenal karena buadayanya yang unik dan autentik yang masih dipertahankan hingga sekarang, terutama untuk obyek wisata Batu Lemo dan Londa, Lemo adalah salah satu kompleks makam yang terkenal dengan kuburannya, peti mati di tempat di dinding tebing bukit tinggi didalam batu yang besar di lubangi, peti mati tersebut di lettakan di dalam tebing batu kapur.


Cara penguburannya disini adalah dengan melubangi batu dengan pahat secara manual yang biasa dilakukan berbulan-bulan, biasanya satu lubang diisi oleh satu keluarga dan di tutup kayu, meski terkesan angker, obyek wisata lemo menjadi tempat wisata rumah arwah. Karena situs pemakaman ini sudah ada pada zaman dulu, di lemo wisatawan akan disajikan dengan pemandangan yang sedikit berbeda. Wisatawan akan melihat jenazah yang sengaja di simpan dalam ruang terbuka yang berda di bukit yang curam.


Karena pemandangan kuburan ini terbiang unik, tidak heran jika batu lemo kerap dikunjungi turis dunia, kawasan pemakanam ini ratusan tahun dan diperkirakan sudah ada sekitar abad ke-`6 sebagai tempat pemakaman kepala suku toraja. di tempat ini wisatawan juga bisa melihat proses pembuatan patung yang biasa di pasang di depan atau orang toraja biasa disebut “Tau Tau” atau orangan.


LONDA habis dari lemo wisatawan bisa langsung menuju londa, letaknya tidak jauh dari obyek wisata lemo, kurang lebih 30 menit perjalanan. Di londa hampir mirip dengan di lemo, yaitu terdapat kuburan batu yang tinggi di atas pegunungan, di obyek wisata ini terdapat juga kuburan di dalam gua. Sebelum masuk ke dalam gua, wisatawan disuguhkan dengan pemandangan tau atau orang di depan mulut gua yang terdapat di atas tebing, untuk masuk ke dalam gua wisatawan bisa menyewa lampu petromaks untuk penerangan di dalam gua.


Di dalam gua terdapat tengkorak – tengkorak atau bahkan tulang belulang manusia yang di simpan di atas peti, di dalam goa ada tengkorak yang di kenal sebagai Romeo & Julietnya Toraja, kisahnya, pasangan kekasih yang ternayata merupakan sepupu, sehingga tidak ada di restui oleh keluarga mereka , karena tidak di restui akhirnya mereka memilih bunuh diri bersama,karena ada peraturan adat yang tidak diperbolehkan untuk memindahahkan tengkorak atau bahkan peti dari tempat asalanya, karena buat memindahakannya butuh upacara upacara terlebih dahulu, jadi selain itu hati-hati karena ketinggian, goa ini pendek, perlu hati hati agar sama obyek yang di dalamnya tetap terjaga.

Baca juga: WAW! Ini Dia Beberapa Perusahaan yang membanggakan Indonesia


2. Pessilliran Kambira
Pemakaman biasanya kental dengan kesan seram, tapi sayangnya, kesan ini sangat jauh terasa saat kumparan menyambangi Kambira di Toraja. Dikenal sebagai pemakaman bayi atau Passiliran, Kambira menawarkan sebuah pemandangan yang jauh berbeda.


Mendengar kata pemakaman, otakmu mungkin akan dengan mudahnya mengingat deretan batu nisan, pohon bunga kamboja, atau sosok-sosok astral. Namun, saat berada di Kambira, hal pertama yang muncul dalam otak kami bukanlah rasa ngeri, tapi tenang dan sejuk.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Kuburan bayi (Baby Grave) Kambira di Makale,
Justru angin sepoi-sepoi yang datang menerpa wajah di sekitar pemakaman bayi itu, memberikan efek kedamaian bagi kami. Di sekitar pohon, ditempatkan kursi dari semen yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai.


Kalau saja tidak dalam posisi bekerja, bisa saja kami tertidur karena tak kuat menahan godaan angin yang menemani perjalanan selama eksplorasi di Toraja.

Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Kawasan pekuburan bayi dalam pohon, Kambira
Passiliran tak terlihat seperti pemakaman pada umumnya, di sekelilingnya terdapat pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi. Sedangkan pada bagian tengah terdapat sebuah pohon besar yang berdiri tegak dan dipagari dengan pagar besi.


Menurut penuturan Sima Batara yang menjadi pemandu kumparan, pohon tersebutlah yang dijadikan sebagai tempat pemakaman. Pohon bernama tarra itu dipilih masyarakat Toraja pada masa lampau untuk menguburkan anak-anak mereka yang masih bayi.


Terutama mereka yang menganut kepercayaan nenek moyang atau yang lebih dikenal sebagai Aluk Todolo. Pasalnya, menurut kepercayaan nenek moyang, bayi-bayi yang belum tumbuh gigi harus dikubur dalam pohon, agar jiwanya bisa selamat mencapai alam baka.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Salah satu liang pohon tempat dikuburnya bayi Toraja di Pohon Passiliran Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Nek Sando, salah seorang Tominaa (imam) dalam kepercayaan nenek moyang Toraja, Aluk Todolo, mengungkapkan bahwa anak yang belum tumbuh gigi tidak boleh dimakamkan sembarangan dalam liang batu atau tanah. Jika dikubur selayaknya manusia dewasa, jiwa mereka nantinya akan disambar oleh petir.


"Kalau (bayi) ini dimasukkan ke liang, nanti disambar (oleh) petir. Itu sudah pasti, karena apa? (Karena) katanya jiwa (mereka) akan merayap seperti ular, sehingga petir datang menyambar, mengambilnya, untuk diselamatkan.


Itulah anggapan nenek moyang, (meskipun) keyakinan itu tidak bisa dibuktikan," kata Nek Sando, saat ditemui kumparan di kediamannya di Makale, Toraja beberapa waktu lalu.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Ne' Sando Tato' Dena'
Pada kumparan, Sima menjelaskan bahwa pohon tarra dipilih, karena memiliki getah yang banyak dan berwarna putih seperti susu. Sehingga dianggap dapat menggantikan sosok air susu ibu bagi para bayi yang meninggal.

Bayi-bayi yang meninggal dan dimakamkan dalam pohon tarra akan dikubur tanpa sehelai benang pun. Ia kemudian akan dimasukkan ke dalam pohon dalam posisi meringkuk, seperti posisi bayi dalam rahim.

Baca juga: Makna Motif Batik Indonesia yang Memiliki Banyak Sejarah


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Penampakan pohon passiliran yang digunakan untuk mengubur bayi
Bayi-bayi yang dikubur dalam pohon tarra akan ditempatkan sesuai dengan stratifikasi sosial keluarganya. Semakin tinggi derajat keluarganya, maka semakin tinggi pula lubang tempat ia dimakamkan.


Lubang penguburannya pun disesuaikan dengan arah rumah keluarganya. Biasanya bayi yang meninggal akan dikubur dalam lubang yang mengarah ke rumahnya, lalu ditutupi dengan ijuk agar oksigen tetap bisa masuk.


Sayangnya, ketika sang bayi meninggal, ibu kandung mereka tidak diperbolehkan melihat hingga jangka waktu kurang lebih setahun. Bahkan ketika mereka dimakamkan.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Kuburan bayi Kambira di Makale
Menurut keyakinan masyarakat Toraja masa lalu, melihat bayi yang meninggal dianggap tidak pantas dan akan mengurangi kemungkinan sang ibu mendapatkan bayi sehat lagi di masa mendatang. Jika dikaitkan dengan masa kini, mungkin saja sebenarnya pantangan itu dulunya diterapkan agar sang ibu tidak merasa sedih dalam waktu yang terlalu lama, sehingga tidak stres.


Passiliran di Kambira hanya berisi satu buah pohon tarra. Tapi itu bukan berarti hanya ada satu orang bayi saja yang dimakamkan di sana. Pasalnya, dalam satu pohon, bisa memuat lebih dari 10 anak bayi.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Passiliran, pohon yang digunakan untuk mengubur bayi sesuai kepercayaan nenek moyang
Pohon tarra tidak boleh ditebang, karena apabila ditebang, maka kamu dianggap memutus kelanjutan hidup atau perjalanan si bayi menuju alam baka. Meski pohon itu dilubangi untuk dijadikan makam, menurut penuturan Sima, pohon tarra hidup dengan baik selayaknya pohon biasa.


Sayangnya, pohon tarra kini tak lagi hidup dan meninggi semenjak tersambar petir. Di ujung pohon, kamu akan menemukan gumpalan ijuk menutupi ujung bagian atasnya yang juga berasal dari pohon aren yang mati tersambar petir, dan tumbang tepat di atas pohon tarra.


Menurut keterangan warga sekitar, semenjak masuknya agama, passiliran sudah mulai tak lagi digunakan untuk memakamkan bayi-bayi Toraja. Sejak sekitar tahun 1970-an, penguburan bayi ke dalam pohon tarra tak lagi dilakukan.


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Dipenuhi pepohonan bambu yang rimbun menjadikan Kambira punya spot Instagenic
Menariknya, selain memiliki pemandangan yang sejuk dan menenangkan, Kambira di Makale juga secara tidak langsung memberikan pengunjungnya spot menarik untuk berfoto. Pohon bambu yang tumbuh sekenanya bukan memberikan kesan seram, tapi malah menjadikan Kambira Instagenic.


Hasil foto kamu pun bisa terlihat seperti sedang berada di Arashiyama, Jepang, karena deretan bambunya yang menawan. Untuk bisa menyambanginya, kamu cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp 10 ribu per orang untuk tiket masuk, lho. Murah, kan?


Menapaki Eksotisme Passiliran, Pemakaman Bayi dalam Pohon di Toraja
Beragam cenderamata yang bisa dibeli di Kambira
Sepulang dari eksplorasi passiliran, kamu juga bisa membeli beragam cenderamata sebagai buah tangan kepada orang-orang tercinta yang telah menunggumu kembali.

Baca juga: Minuman Minuman Tradisional


3. Pemakaman Waruga
Masyarakat suku Minahasa di Sulawesi Utara pada masa lampau memiliki tradisi kubur yang unik. Anggota masyarakat yang telah meninggal dikuburkan dalam sebuah kotak batu berongga. Jenazah diletakkan dalam posisi meringkuk. Wadah tersebut kemudian ditutup dengan penutup berbentuk segitiga. Kubur batu tersebut kemudian disebut Waruga.


Waruga sendiri berasal dari dua kata “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi secara harfiah, waruga berarti “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”. Saat jenazah dimasukkan ke dalam waruga, jenazah akan berada dalam posisi tumit yang bersentuhan dengan bokong, dan mulut seolah mencium lutut. Persis seperti posisi bayi dalam rahim.


Posisi ini bagi masyarakat Minahasa mengandungi makna bahwa manusia mengawali kehidupan dengan posisi bayi dalam rahim, maka semestinya mengakhiri hidup juga dalam posisi yang sama. Tidak hanya itu, jenazah juga ditempatkan dalam posisi menghadap ke arah utara yang menandakan nenek moyang suku Minahasa yang berasal dari utara.


Waruga, Kuburan Masyarakat Minahasa di Masa Lampau yang Dilarang oleh Belanda
Jejak mahakarya zaman Megalitikum itu bisa kita ditemui di Taman Purbakala Waruga Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara. Taman purbakala ini menjadi destinasi wisata sejarah favorit para pelancong baik dalam maupun luar negeri.


Di taman ini, setidaknya ada 143 waruga yang bisa ditemui. Dulu taman tersebut sangat terbengkalai. kuburan-kuburan tersebar di area pemukiman warga. Hingga akhirnya pemerintah setempat melakukan pengumpulan dan pemugaran di tahun 1977. Kini Taman Purbakala Waruga Sawangan dapat dikunjungi oleh wisatawan.


Ketika masuk ke komplek taman, kamu akan melihat relief di kiri kanan. Relief tersebut menggambarkan bagaimana pembuatan hingga pemakaian Waruga. Meski ada ratusan Waruga, hanya 31 yang bisa diidentifikasi.

Baca juga: Bangunan dan Monumen Bersejarah


Waruga mulai digunakan oleh orang Minahasa pada abad ke IX. Namun sekitar tahun 1860, kebiasaan mengubur dalam Waruga mulai dilarang oleh Belanda. Alasanya adalah saat itu mulai berkembang wabah pes, tipus dan kolera. Maka muncul kekhawatiran apabila orang yang dikubur membawa penyakit, maka penyakit akan menyebar melalui rembesan dari celah kotak Waruga.


Waruga, Kuburan Masyarakat Minahasa di Masa Lampau yang Dilarang oleh Belanda
“Sewaktu agama Kristiani masuk oleh Belanda, masyarakat Minahasa mulai menguburkan jasad dalam peti mati lalu dikubur kedalam tanah.


Pada masa lampau hanya orang-orang yang mempunyai kelas sosial cukup tinggi yang dikubur dalam waruga. Hal itu ditandai dengan ukiran yang ada di penutupnya. Seperti motif wanita beranak menunjukkan yang dikubur adalah dukun beranak, gambar binatang menunjukkan yang dikubur dalam Waruga adalah pemburu. Penutup yang diukir gambar beberapa orang menunjukkan yang dikubur adalah satu keluarga.


Jumlah orang yang dikubur dalam waruga ditandai dengan ukiran berupa garis di samping penutup Waruga. Sementara penutup yang polos kemungkinan merupakan Waruga tua dimana saat itu belum ada kebiasaan mengukir atau memahat penutup Waruga.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait