Makna Motif Batik Indonesia yang Memiliki Banyak Sejarah

Pendidikan —Jumat, 30 Jul 2021 10:35
    Bagikan  
Makna Motif Batik Indonesia yang Memiliki Banyak Sejarah
megamendung (pinterest)

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK 

Bagi kalian mungkin sudah tidak terasa asing dengan batik, apalagi batik pakai yang sering di pakai ketika ada acara, baik acara hajatan atau perkumpulan, kali ini mimin mau bahas beberapa arti dari batik itu


1. Megamendung
Motif batik Megamendung merupakan karya seni batik yang identik dan bahkan menjadi ikon batik daerah Cirebon dan daerah Indonesia lainnya. Motif batik ini mempunyai kekhasan yang tidak ditemui di daerah penghasil batik lain. Bahkan karena hanya ada di Cirebon dan merupakan masterpiece, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu world heritage.’


Motif megamendung sebagai motif dasar batik sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Sebagai bukti ketenarannya, motif megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen. Kekhasan motif megamendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon. H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menyatakan bahwa:


“ Motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Pernyataan ini tidak bermaksud membatasi bagaimana motif megamendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan penggunaan motif megamendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel.


Sejarah motif
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.


Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.


Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.

Baca juga: Minuman Minuman Tradisional


Sejarah batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Membatik pada awalnya dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat tersebut. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Desa ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.


Unsur motif
Motif megamendung yang pada awalnya selalu berunsurkan warna biru diselingi warna merah menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis, karena dalam proses pembuatannya ada campur tangan laki-laki. Kaum laki-laki anggota tarekatlah yang pada awalnya merintis tradisi batik. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter.


Selain itu, warna biru juga disebut-sebut melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan tenang serta melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda sampai dengan warna biru tua. Biru muda menggambarkan makin cerahnya kehidupan dan biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan dan memberi kehidupan.


Dalam perkembangannya, motif megamendung mengalami banyak perkembangan dan dimodifikasi sesuai permintaan pasar. Motif megamendung dikombinasi dengan motif hewan, bunga atau motif lain. Sesungguhnya penggabungan motif seperti ini sudah dilakukan oleh para pembatik tradisional sejak dulu, namun perkembangannya menjadi sangat pesat dengan adanya campur tangan dari para perancang busana. Selain motif, warna motif megamendung yang awalnya biru dan merah, sekarang berkembang menjadi berbagai macam warna. Ada motif megamendung yang berwarna kuning, hijau, coklat dan lain-lain.


Proses produksi
Proses produksinya yang dahulu dikerjakan secara batik tulis dan batik cap, dengan pertimbangan ekonomis diproduksi secara besar-besaran dengan cara disablon (printing) di pabrik-pabrik. Walaupun kain bermotif megamendung yang dihasilkan dengan proses seperti ini sebenarnya tidak bisa disebut dengan batik.


Wujud motif megamendungpun yang dulunya hanya dikenal dalam wujud kain batik, sekarang bisa ditemui dalam berbagai macam bentuk barang. Ada yang berupa hiasan dinding lukisan kaca, produk-produk interior seperti ukiran kayu maupun produk-produk peralatan rumah tangga seperti sarung bantal, sprei, taplak meja dan lain-lain.


Batik megamendung adalah motig kain batik yang berasal dari daerah Cirebon. Bentuk motif batik khas kota udang ini menyerupai bentuk awan-awan. Motif batik mega mendung terlah menjadi sebuah ikon karya seni kota Cirebon. Motif batik megamendung mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh motif batik di daerah penghasil batik lainnya.


Kain batik mega mendung yang sudah sejak lama dan turun menurun diproduksi oleh masyarakat Cirebon tidak hanya terkenal di kalangan pecinta batik di Indonesia saja. Motif batik mega mendung juga diapresiasi dengan baik oleh masyarakat di luar negeri. Ini terbukti dengan dijadikanya motif batik megamendung sebgai cover salah satu buku yang membahas tentang batik yang berjudul “Batik Design” karya Pepin Van Roojen seorang kebangsaan Belanda.

Baca juga: Danau Tebesar di Indonesia dan ke indahnya


Selain bangga bahwa motif kain batik mega mendung mendapatkan apresiasi yang baik di dalam dan di luar negeri, kita juga patut untuk tahu pengertian batik mega mendung dari segi sejarah dan filosofi motif batik yang tertuang di atas kain.


Ada beberapa pendapat tentang asal motif batik mega mendung. Ada yang mengatakan bahawa motif mega mendung adalah hasil dari pengaruh pendatang dari negeri China. Yang pada dulu sering singgah di pelabuhan Muara Jati, Cirebon dan dianggap membawa paham Taoisme dimana bentuk awan melambangkan dunia atas atau dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan).


Ada juga yang mengatakan motif batik mega mendung diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan.


2. Tujuh Rupa
motif batik tujuh rupa yang menjadi salah satu andalan karena memiliki warna dan motif yang memukau hasil perpaduan kebudayaan lokal dengan etnis Tiongkok (China). Hal ini karena Pekalongan yang berada di wilayah pesisir utara pulau Jawa dulunya menjadi tempat transit para pedagang dari berbagai negara salah satunya yang memberi pengaruh besar adalah China.


Pekalongan sendiri merupakan daerah penghasil batik terbesar dan dikenal juga sebagai Kampung Batik Indonesia. Dari beragam motif batik yang diproduksi disana, Motif batik Tujuh Rupa menjadi ciri khas yang menggambarkan kehidupan masyarakat pekalongan.


Mengenal Motif Batik Tujuh Rupa
Batik Tujuh Rupa sendiri merupakan batik dengan motif nuansa alam. Biasanya mengandung motif tumbuhan atau hewan. Motif ini mengadopsi pada motif tumbuhan yang ada pada keramik dari Tiongkok. Motif tumbuhan tersebut dipadukan dengan ragam binatang seperti kupu-kupu, naga, burung merah dan berbagai jenis burung lainnya. Ragam motif tersebut dipoles dengan warna warni yang cerah yang membuat batik tujuh rupa ini begitu memukau.


Filosofi Batik Tujuh Rupa

Setiap motif batik yang tercipta tentu memiiki makna yang terkandung dari motif tersebut. Begitu juga dengan batik tujuh rupa yang memiliki makna kefasihan dan kelembutan. Motif tersebut juga menggambarkan kehidupan orang pesisir jawa yang mudah beradaptasi dengan kebudayaan luar.

Akulturasi budaya pada motif batik tujuh rupa inilah yang membuat batik ini unik, menarik dan menjadi sebuah ciri khas tersendiri dari Pekalongan.

Beragam motif batik yang tercipta di berbagai wilayah menjadi sebuah simbol keanekaragaman dan kearifan kebudayaan Indonesia. Batik tidak hanya indah dilihat saja, namun memiliki arti yang dalam di setiap motifnya

Baca juga: Rafi Ahmad Covid dan Sembuh 2 Hari, Begini Kronologi dan Respon Kemenkes


3. Batik Lasem
Batik Lasem adalah salah satu jenis kain batik pesisiran yang merupakan hasil silang budaya dari batik lokal yang diilhami oleh ide batik kraton dan serapan unsur-unsur budaya asing. Batik Lasem memiliki ciri khas yang unik dan kental dengan nuansa budaya Cina dan Jawa. Motif dan warna dalam batik Lasem memiliki makna simbolik terkait dengan unsur filosofi Cina dan Jawa. Rumusan masalah dalam penelitian ini di antarannya adalah latar belakang sejarah mengenai apa saja simbol-simbol batik Lasem serta bagaimana makna batik Lasem sebagai manifestasi simbol akulturasi Cina-Jawa dalam budaya masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan latar belakang sejarah mengenai ragam simbol dalam batik Lasem serta bentuk manifetasi simbol batik Lasem dalam kehidupan masyarakat. Penulis menggunakan metode penelitian dengan model penelitian lapangan dan kajian pustaka. Pengumpulan data dilakukan dengan tahap wawancara kepada narasumber tokoh sejarah dan pengelola batik Lasem.


Di samping itu pengumpulan data awal dilakukan dengan melakukan pembacaan pustaka, di antaranya data pustaka primer dan sekunder. Pustaka primer berasal dari sumber buku-buku utama dan pokok, sedangkan pustaka sekunder berasal dari buku-buku pendukung penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan metode 1) Deskripsi, 2) Kesinambungan historis, 3) Intepretasi, 4) Koherensi intern, 5) Refleksi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori simbol untuk mengkaji dan menganalisa makna simbol yang terdapat pada batik Lasem. Hasil penelitian ini, memaparkan hal-hal sebagai berikut. Pertama motif simbol hasil akulturasi budaya pada batik Lasem di antaranya: naga, phoenix, Watu Pecah, Latohan, dan Lokchan.


Kedua batik Lasem memiliki makna yang memenuhi segala aspek bentuk-bentuk manifestasi simbol, di antaranya berhubungan dengan kegiatan seni yakni nilai estetik pada perubahan wujud tanaman latoh ke motif batik Lasem. Mitos berhubungan dengan simbol kepercayaan masyarakat Cina terhadap motif dewa seperti naga, dan phoenix. Bahasa terkait dengan makna dibalik simbol-simbol motif batik Lasem seperti huruf Mandarin. Sejarah berhubungan dengan latar belakang terbentuknya motif batik Lasem seperti Watu Pecah yang terinspirasi dari peristiwa pembuatan jalan raya Deandels. Ilmu pengetahuan terkait nilai-nilai ajaran yang dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan seperti motif dan hasil akulturasi Cina-Jawa

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait