Alat Musik Tradisional Lombok

Pendidikan —Senin, 26 Jul 2021 12:50
    Bagikan  
Alat Musik Tradisional Lombok
Sumber Pinterest

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

Halo sobat Lombok kali ini mimin mau bagi info tentang alat musik dari Lombok kira kira apa yaa alat musik yuk ah kepoin

1.Genggong
Musik Genggong merupakan musik instrumental tradisional Bali yang sangat langka, seperti yang dikutip dalam artikel Genggong (Bali), genggong merupakan salah satu instrumen getar yang unik yang semakin jarang dikenal orang. Keunikannya terletak pada suara yang ditimbulkannya yang bila dirasakan memberi kesan mirip seperti suara katak sawah yang riang gembira bersahut-sahutan di malam hari. Keunikannya yang lain adalah memanfaatkan rongga mulut orang yang membunyikannya sebagai resonator.

Memang alat ini dibunyikan dengan cara mengulum (yanggem) pada bagian yang disebut “palayah”nya. Jari tangan kiri memegang ujung alat sebelah kiri dan tangan kanan menggenggam tangkai bambu kecil yang dihubungkan dengan tali benang dengan ujung alat di sebelah kanan. Untuk membunyikannya maka benang itu ditarik-tarik ke samping kanan agak menyudut ke depan, tetapi tidak meniupnya. Rongga mulut hanya sebagai resonator, dibesarkan atau dikecilkan sesuai dengan rendah atau tinggi nada yang diinginkan.

Baca juga: Cerita di Balik Keindahan Pantai Selong Belanak di Lombok, Pantai Yang Katanya Memiliki Kutukan Mengerikan

Baca juga: Emulator PS1 Android Terbaik Buat Main Harvest Moon

Satu ensembel minimal terdiri dari dua buah instrumen yang satu dalam ukuran yang lebih besar dari yang lainnya. Atau kadang-kadang terdiri dari empat buah alat atau lebih dengan maksud agar bisa membuat variasi atau cecandetan. Alat bunyi-bunyian ini semata-mata dipakai sebagai hiburan, misalnya dalam acara perkawinan. Seniman pengrajin pembuat genggong yang masih aktif banyak didapatkan di Desa Batuan, Kabupaten Gianyar,bu misalnya pada seorang yang bernama I Made Meji. Ada kalanya dibuat sebagai barang “souvenir” yang dijajakan buat para wisatawan.

2. Semprong
Suku sasak adalah suku mayoritas yang menghuni di pulau lombok.Kesenian alat musik semprong adalah alat musik yang keberadaannya sudah hampir punah. Mungkin banyak yang tidak tahu apa sih alat musik semprong itu.Alat yang digunakan alat musik semprong ini yaitu bambu,yang hampir sama dengan alat musik yang berasal dari suku Iduridu yaitu suku Aborigin yang ada di Australia.

Suling,semprong dan pengkelek hujan adalah tiga alat musik utama yang digunakan.Jensi alat musik yang digunakan ada dua,yaitu yang berukuran besar dan yang berukuran kecil.Untuk semprong yang berukuran besar dengan ukuran lebih dari satu meter terbuat dari bambu sentul yang mempunyai buku panjang,

sedangkan untuk semprong yang mempunyai ukuran kecil terbuat dari kayu selelo dengan ukuran 80cm.Kemudian bambu tersebut dibentuk seperti terompet. Mengapa bambu yang digunakan adalah jenis bambu betung dan selelo,karena jenis bambu tersebut yang bisa menghasilkan nada yang baik.

Baca juga: Streaming Ikatan Cinta Malam Ini, Aldebaran Keluarkan Mama Sarrah dan Jebloskan Elsa ke Penjara

Baca juga: Film Indonesia Zeta: When The Dead Awaken , Perjuangan Ibu dan Anak yang Bertahan Hidup di tengah Serangan Virus Zombie yang Mewabah

3. Satong Srek
Satong srek dibuat dari bambu yang salah satu bagiannya diberi penampang berupa lempengan seng yang dibuat tajam dan kasar permukaannya. Jika permukaan seng digesek atau dipukul akan mengeluarkan bunyi.

Satong srek dimainkan sebagai alat musik tambahan dalam suatu bentuk orkestra kesenian tradisional dan dapat pula dimainkan secara solo / individual. Alat musik ini biasanya untuk mengiringi tarian nguri, syier male, badede, bulan kasandung, ngumang rame. Satong srek dapat juga dipadukan dengan alat-alat musik modern.

4. Gedang Beleq
Gendang Beleq adalah alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok. Gendang Beleq berasal dari Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Asal kata Gendang berasal dari bunyi gendang itu sendiri, yaitu bunyi deng atau dung. Beleq berasal dari bahasa Sasak yang berarti besar. Gendang Beleq berarti gendang besar.

Sejarah - Dahulu di Lombok, Gendang Beleq dijadikan penyemangat prajurit yang pergi berperang dan yang pulang dari peperangan. Dengan demikian Gendang Beleq dijadikan musik dalam peperangan. Kini Gendang Beleq digunakan sebagai musik pengiring dalam upacara-upacara adat seperti Merariq (pernikahan), sunatan (khitanan), Ngurisang (potong rambut bayi atau aqiqah) dan begawe beleq (upacara besar).

Cara Main - Gendang Beleq dimainkan secara berkelompok membentuk orkestra. Orkestra Gendang Beleq terdiri dari dua Gendang Beleq yang disebut mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika. Juga terdiri atas sebuah Gendang Kodeq (gendang kecil), perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong dan dua buah reog, yakni reog nina dan reog mama sebagai pembawa melodi. Pemain Gendang Beleq memainkan Gendang Beleq sambil menari. Pemain Gendang beleq terdiri dari 13 sampai 17 orang. Jumlah tersebut menunjukan jumlah rakaat dalam shalat (ibadah umat Islam)

Baca juga: Pantai Tangsi ,Keindahan Pantai Dengan Pasir Merah Muda yang Mempesona

Baca juga: BTS Semakin Mendunia, Tidak Hanya Dengan Karya, BTS Juga Menjadi Duta Budaya Untuk Korea

5. Gula Gending
Instrumen tradisional ini terbuat dari seng dan tekstil. Alat ini sebenarnya digunakan untuk menjajakan gula kapas (arumanis) yang terbuat dari gula pasir, sehingga alat ini dinamakan gula gending.


Dalam bahasa Sasak, tempat untuk menyimpan gula disebut dengan tongkaq. Tongkaq inilah yang juga biasa difungsikan sebagai alat musik. Memainkannya dengan cara digendong, kotak dipukul menggunakan jari kanan dan kiri menyesuaikan irama gending atau lagu yang dimainkan.

Gula gending dimainkan oleh pedagan berkeliling kampung untuk menjajakan gula kapas. Gending yang dimainkan ini berfungsi untuk menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk membeli. Jenis gending yang dimainkan biasanya seputar Buah Odaq, Tempong Gunung, dan sebagainya.

6. Selober
Desa Pengadangan dan Alat Musik Selober ada di Lombok. Membahas Lombok tak kan pernah habis. Pulau dengan sejuta keindahan alam yang sangat menakjubkan, mulai dari pantai, gili, bukit, gunung, sungai dan air terjun.
Kesenian di Lombok juga tak kalah menarik, salahsatunya adalah Alat Musik Selober. Itu artinya, Alat musik khas Lombok bukan hanya Gendang beleq namun terdapat berbagai alat musik tradisional khas Lombok lainnya, salah satunya adalah Selober.

Alat musik ini adalah alat musik tradisonal yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga Desa Pengadangan, Lombok timur. Selober memiliki sejarah yang panjang dan hanya ditemukan di Desa Pengadangan.

Berkembangnya alat musik ini, konon karena pengaruh desa tetanggga yaitu desa Jurit, Kecamatan Pringgesela, Lombok Timur. Merekalah yang diinformasikan menggagas sekaligus mengembangkan alat musik Selobor sehingga di terima dan dimainkan secara luas oleh warga Pengadangan.

Lahirnya selober berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Salah seorang warga Desa Pengadangan, Zainal Asikin menceritakan bahwa dulu salah seorang pendatang dari desa Jurit hendak membuat alat musik Genggong. Alat musik genggong ini adalah alat musik tradisional Sasak juga. Ia terbuat dari pelepah pohon aren. Karena salah dalam proses membuat genggong akhirnya orang tersebut berimprovisasi dan lahirlah selober.

Sejarah dan Asal Usul Alat Musik Selober Pengadangan

Slober berasal dari kata slemor dan seber. Selemor berarti mengisi waktu luang dan seber berarti suara yang terdengar serak. Dari penggabungan dua kata inilah ter bentuk kata slober. Oleh karena itu selober biasanya dimainkan oleh warga Desa Pengadangan guna mengisi waktu luang mereka saat tidak bekerja.

Baca juga: Sholawat Jibril, Sholawat penuh Cinta membuka Pintu Rezeki dan Penerang Lentera Hati

Baca juga: Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Situs Wisata Sejarah dan Budaya di Lombok

Misalnya ketika mereka menunggu musim panen padi tiba. Alat musik ini dimainkan hanya untuk mengisi waktu luang karena suaranya yang kecil. Namun kini telah biasa dimainkan di pertunjukan-pertunjukan. Namun untuk menghasilkan musik yang indah, slober harus dikombinasikan dengan alat musik lain seperti gambus.

Slober terbuat dari pelepah pohon arena tau di dalam bahasa sasak disebut nao. Pelepah nao yang masih basah dikuliti dan diambil bagian kulit luarnya. Bagian ini biasanya elastic dan tidak mudah patah. Lembaran kulit pelepah nao inilah kemudian yang dimainkan dengan cara ditiup sembari ditekan oleh ibu jari sehingga menghasilkan berbagai varian nada

Dipilihnya pelepah nao karena ia elastic dan tidak berbahaya. Jika menggunakan bambu memang akan elastis juga. Namun bilah bambu yang sudah ditipiskan sangat tajam sehingga akan berbahaya ketika dimainkan. Bukannya menghasilkan nada malah pemain slober bisa terluka.

Cara Memainkan Musik Selober

Tidak semua lagu bisa diiringi dengan selober. Umumnya lagu daerah Lombok yang bisa dimainkan dengan alat musik ini hanyalah lagu yang menggunakan lima nada; yaitu do-re-mi-so-la. Slober tidak dapat memainkan lagu tujuh nada, karena slober itu sendiri tidak mempunyai nada fa dan si.

Alat musik ini harus dimainkan secara berpasang-pasangan. Ia tidak bisa dimainkan oleh satu orang saja. Hal ini sesuai denga penuturan Zainal Asikin, “Alat musik ini hanya bisa dimainkan oleh dua orang saja. Hal ini karena alat musik ini terdiri dari dua bagian yaitu wadon/nine (perempuan) dan lanang/mame (laki-laki)”.

Jika dimainkan sendirian maka nada yang dihasilkan tidak akan lengkap. Namun jika dimainkan berpasangan maka kelima nada dasar (do-re-mi-so-la) yang dihasilkan oleh slober. Nada wadon itu sendiri terdiri atas sol-do-mi sedangkan lanang la dan re. Sehingga jika dimainkan butuh keahlian tersendiri untuk mengolaborasikan nada yang satu dengan yang lainnya.

Merdunya alunan slober tak serta merta menarik minat anak muda untuk belajar memainkan slober. Kurangnya minat generasi muda untuk belajar slober karena untuk dapat memainkan slober sangatlah sulit. Metode memiankannya sangat rumit sehingga butuh belajar yang mendalam.

Begitulah alasan mengapa Zainal Azikin tetap berusaha melestarikannya dengan membangun sanggar kesenian di Desa Pengadangan. Dana yang dialokasikan sekitar 18 juta rupiah—berasal dari dana PNPM bantuan pemerintah melalui kementrian kebudayaan dan pariwisata— dana ini digunakan semaksimal mungkin untuk melestarikan kebudayaan yang mulai tergusur oleh zaman. Saat ini bangunan sanggar sedang dibangun untuk tempat latihan para personil. (Disatur dari tulisan Sin & Rizal)

Baca juga: Simak Yuk! Rekomendasi Aplikasi Nonton Film Gratis Sub Indo Terbaik dan Terlengkap 2021

Baca juga: Info Kesehatan, Resiko Ketika Berciuman dengan Seorang Perokok

Cara Membuat Alat Musik Selober Pengadangan

Selober adalah salah satu alat musik khas atau tradisional yang berasal dari Pulau Lombok. Alat musik selober dibuat dengan memanfaatkan pelepah pohon aren atau dikenal dengan nama pohon enao dalam Bahasa Sasak. Pelepah pohon aren yang masih basah dikuliti dan diambil bagian kulit luarnya. Panjangnya kira-kira 10 – 15 cm dan lebarnya sekitar 3 cm.

Pelepah pohon aren sengaja dipilih karena pelepahnya cukup elastis dan aman ketika digunakan. Untuk memainkan alat musik selober ini, lembaran kulit pelepah pohon aren ini kemudian ditiup sambil ditekan dengan ibu jari sehingga menghasilkan berbagai jenis nada. Sampai saat ini, alat musik selober ini masih terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya agar tidak punah dan tenggelam ditengah arus globalisasi.

Berbicara tentang asal-usul, alat musik selober ini mempunyai sejarah yang cukup panjang and surprisingly, alat musik yang cukup mungil ini hanya bisa ditemukan di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Menurut penuturan warga lokal, perkembangan alat musik selober ini tidak lepas dari campur tangan warga pendatang dari Desa Jurit, Lombok Timur.

Menurut beberapa warga lokal, alat musik ini diciptakan dan dikembangkan oleh warga pendatang tadi. Seiring perkembangannya, alat musik ini mulai dikenal dan diterima oleh penduduk yang tinggal di Desa Pengadangan. Sejak saat itu, warga Desa Pengadangan mulai memainkan dan melestarikan alat musik tradisional ini.

Kata salah seorang warga lokal, selober berasal dari dua kata, yaitu selemor dan Seber. Selemor artinya mengisi waktu luang/senggang, sedangkan seber artinya suara yang terdengar serak atau berisik seperti radio rusak. Nah, kedua kata ini kemudian digabungkan menjadi satu dan lahirlah istilah selober (selemor dan seber). Jadi tidak mengherankan jika biasanya alat musik selober ini dimainkan oleh warga setempat ketika waktu senggang mereka atau untuk mengisi waktu luang mereka.

Contohnya seperti ketika sedang libur bekerja atau tidak ke sawah atau ketika menunggu waktu panen datang. Namun kini, atas inisiatif pemuda-pemudi setempat, setiap tahunnya selalu diadakan festival budaya. Dimana disetiap festival, alat musik selober ini selalu ditampilkan dan biasanya diiringi dengan alat musik tradisional lainnya, seperti: gendang, rincik, seruling dan gambus.

Menurut penggiat alat musik tradisional ini, selober tidak bisa dimainkan sendiri. Selober harus dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari 8 orang. Mungkin karena suaranya yang kecil atau terbatasnya nada yang dihasilkan. Jadi, alat musik selober harus diiringi dengan alat musik lain sehingga bisa menghasilkan satu kesatuan nada yang lebih harmonis dan enak didengar

Baca juga: Masjid Kuno Bayan Beleq, Destinasi Wisata Religi di Pulau Lombok

Baca juga: Cara Membuat Perkedel Tahu Isi Daging, Yang renyah dan garing

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait