Sejarah Batik Sasambo dan Nasib nya Sekarang

Pendidikan —Jumat, 23 Jul 2021 12:29
    Bagikan  
Sejarah Batik Sasambo dan Nasib nya Sekarang
Sejarah Batik Sasambo (sumber foto: pinterest)

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari tiga pulau yaitu pulau Lombok, pulau Sumbawa dan pulau Komodo, dengan ibukotanya Mataram, terletak di pulau Lombok.

Batik Lombok, disebut juga Batik Sasambo

Sasambo merupakan akronim dari tiga etnis yang mendiami bumi Nusa Tenggara Barat (NTB): Sasak di Lombok, Samawa di Sumbawa, dan Mbojo di Bima. Ketiga etnis yang mendiami dua pulau besar di NTB ini, Lombok dan Sumbawa, memiliki adat dan budaya berbeda. Tapi warga di ketiga etnis sepakat untuk bersama-sama menciptakan kerajinan tangan tradisional yang indah dengan nama batik sasambo. Batik sasambo diharapkan dapat menjadi sarana mempererat kerukunan dan kebersamaan ketiga etnis tersebut.

Motif batik sasambo yang terkesan abstrak, sangat indah dan berkesan mistis. Lebih dari itu, ternyata memiliki nilai sejarah, seni dan filosofi yang sangat tinggi. Setiap motif berkaitan dengan tradisi sehari-hari masyarakat NTB.

Baca juga: Daftar Destinasi Wisata di Lombok Dengan Tarif Yang Murah, Dijamin Puas

Baca juga: Simak Yuk! Tips Melindungi Mata Akibat Terlalu Lama di Depan Komputer

Batik Sasambo, memiliki empat motif utama, serta berbagai perpaduannya, antara lain Motif Sasambo motif Mate Sahe (dalam bahasa Indonesia artinya Mata Sapi), motif Kakado, serta motif Uma Lengge, yang motifnya mirip dengan rumah-rumah kecil dengan kubah berbentuk kerucut. Corak dan warna batik Sasambo sesuai dengan budaya lokal dari masing-masing etnis.Batik Sasambo terbilang masih muda karena baru diluncurkan pertama kali tahun 2010. Sesuai dengan ditetapkannya Batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, maka Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat tergerak hatinya untuk mengembangkan Batik khas Nusa Tenggara Barat. Sehingga pada tanggal 17 April 2010 diluncurkannya batik “Sasambo”.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar setiap Suku yang berada di Nusa Tenggara Barat merasa memiliki dan saling melestarikan penggunaan Batik Sasambo sebagai batik khas Nusa Tenggara Barat. Walaupun suku di Nusa Tenggara Barat tidak hanya Sasak, Samawa, dan Mbojo. Namun suku kecil lainnya tetap menggunakan bahasa keseharian dengan bahasa 3 suku besar tersebut.Motif yang dimiliki Batik Sasambo mengusung adat dan budaya lokal Nusa Tenggara Barat. Adapun beberapa motif dari Batik Sasambo meliputi:
Motif “Kelotok Sapi” atau gantungan kayu kotak berbunyi yang biasa diikat di leher Sapi khas peternakan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Motif “Kangkung, Daun Pepaya, Daun Bebele (Semacam Pegagan)” yang menggambarkan bahwa sayur-sayur tersebut merupakan sayuran yang biasa dimakan oleh Masyarakat Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Motif “Cabe” atau Lombok yang menggambarkan bahwa Pulau Lombok sebagai salah satu daerah dengan penghasil cabe terbesar di Indonesia.
Motif “Mutiara” yang menggambarkan bahwa Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu provinsi penghasil mutiara terbanyak di Indonesia.
Motif “Gerabah” yang menggambarkan kerajinan khas Pulau Lombok.
Motif “Rumah Panggung” yang menggambarkan rumah adat Suku Samawa dan Mbojo di di pulau Sumbawa.
Motif “Lumbung Raja Bima” yang menggambarkan tentang Kerajaan Bima atau Kesultanan Bima.
Motif “Kerang” yang menggambarkan bahwa Nusa Tenggara Barat memiliki kekayaan bahari.
Serta motif “Tokek” yang merupakan hewan keberuntungan di Pulau Lombok.
Dari berbagai motif Batik sasambo memiliki motif rumah tradisonal NTB yang berkaitan dengan tradisi di masyarakat NTB. Batik sasambo tidak hanya diciptakan dengan alasan fashion dan kesetikan saja. Banyak makna yang terkandung dalam motif batik Sasambo, makna dan nilai tersebut merepresentasikan nilai nilai dan harapan masyrakat NTB. Nilai nilai dan harapan tersebut merujuk pada persatuan, kerukunan, kemakmuran, kemanan dari bencana, sumber rejeki, perdamaian dan perlindungan. Mislanya motif Bale Lumbung yang motifnya berupa gambar biji ijian, motif ini bermakna kemakmuran karena biji bijian adalah bahan konsumsu makanan yang dapat ditanam kembali. Selain itu 

Baleq yang bermotif rumah panggung tinggi, yang memiliki nilai berkumpul keluarga atau. Kemudian motif Tereng yang bermotif pohon bamboo, pohon bamboo digambarkan kehidupannya slelau bergerombol sehinga kerukunan selalu tercipta dan juga pohon bamboo memiliki akar yang kuat guna menahan bencana alam tanah longsor.
Batik Sasambo yang paling terkenal adalah motif “Kangkung” karena Masyarakat Nusa Tenggara Barat terkenal dengan sayur khasnya “Plecing Kangkung”. Warna Batik Sasambo beragam meliputi warna merah, orange, kuning, kuning keemasan, biru muda, biru gelap, dan lain sebagainya. Sedangkan motif batik Sasambo yang paling digemari oleh Masyarakat maupun Wisatawan untuk dibeli adalah motif Kangkung dengan warna merah berpadu kuning keemasan. Cara pembuatan batik Sasambo hampir sama dengan batik pada umumnya yang berada di Pulau Jawa seperti Jogja dan Pekalongan. Adapun cara membuatnya sebagai berikut:

Baca juga: Kue Khas Lombok dengan Bentuk Terunik, Ada yang Mirip Teropong Loh

Baca juga: Film Indonesia Bumi Manusia, Adat Tradisi dan Pengorbanan Yang Terikat Oleh Peraturan

1. Membuat Molani Pada Kain

Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat molani atau ( menggambar) motif batik. Pembuatan desain batik sesuai motif yang diinginkan seperti motif Kangkung, Gerabah, Mutiara, Rumah Panggung, dan lain-lain. Membuat molani ini biasanya menggunakan pensil yang langsung di gambar di atas kain.

2. Melukis Pada Kain

Langkah kedua yang dilakukan adalah tebalkan motif tersebut dengan menggunakan lilin yang sudah dicairkan.

3. Menutupi Bagian Putih

Langkah ketiga yang dilakukan adalah menutupi bagian putih menggunakan lilin agar saat dilakukan pewarnaan menggunakan pewarna, lapisan yang diberi lilin tidak terkena warnanya.

4. Pewarnaan Kain

Langkah keempat yang dilakukan adalah proses pewarnaan pertama yang dilakukan pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin, kemudian dikeringkan dengan cara dijemur.

5. Melukis Kembali Dengan Canting

Langkah kelima yang dilakukan adalah melukis kembali kain menggunakan canting agar mempertahankan warna pada tahap pewarnaan pertama, kemudian dicelupkan ke pewarna kedua atau tahap pewarnaan kedua.
6. Menghilangkan Lilin

Langkah keenam yang dilakukan adalah menghilangkan lilin yang menempel pada kain dengan mencelupkan kain pada air yang sudah dipanaskan di atas tungku.

Baca juga: 5 Benda Di dalam Rumah yang di Percaya Membawa Hoki, Pembawa Rezeki

Baca juga: 20 Drakor yang Wajib Kamu Tonton

7. Melakukan Proses Membatik Kembali

Langkah ketujuh yang dilakukan adalah melakukan proses membatik kembali menggunakan lilin agar mempertahankan warna pada pewarnaan pertama dan kedua.

8. Proses Nglorot

Langkah kedelapan yang dilakukan adalah merebus kain yang sudah berubah warnanya menggunakan air panas agar menghilangkan lapisan lilin sehingga motif yang sudah dibuat pada kain akan terlihat dengan jelas.

9. Mencuci Kain Batik

Langkah kesembilan yang dilakukan adalah mencuci kain batik dan menjemurnya sampai kering.

Tapi sekarang sayang sekali Batik Sasambo mulai menghilang dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para perajin Batik Sasambo yang ada di Pulau Sumbawa. Kusman Jayadi mengungkapkan, saat bertemu dengan para koleganya sesama perajib Batik Sasambo, keluh kesahnya pasti sama. Bahkan, Kata Kusman, curhatnya bisa berlanjut melalui telepon berjam-jam.

“Komitmen pemerintah sekarang memang mulai pudar,” katanya.

Namun, menurut Kusman, sebagian dari mereka belum menyerah. Tetap ingin bertahan. Keinginan untuk bertahan tersebut umumnya dikarenakan oleh perasaan yang sudah nyaman dan menyatu dengan batik. Sebab melalui itu, ia bisa memberdayakan masyarakat.

Namun, yang pasti, kata dia, perajin tak bisa hidup tanpa pemerintah. Sebab, membiarkan batik hasil pabrikan dan kerajinan bertarung di pasar secara bebas, tentu tak akan bisa.

Hal itu dikarenakan oleh perbedaan antara hasil pabrikan dan kerajinan. Jika pabrikan yang memproduksi dalam partai besar bisa banting harga. Beda halnya dengan pengrajin. Sampai kapanpun, prosesnya akan tetap lama.

“Itulah mengapa peranan pemerintah dalam membantu para perajin sangat diperlukan.

Belakangan, memang sudah mulai ada kenaikan omzet. Memang mulai ada intervensi pemerintah. Meski tidak segencar sebelumnya. Sudah ada surat imbauan dari provinsi untuk membeli batik Sasambo di instansi-instansi. meskipun tidak semua instansi mengamini imbauan tersebut.

“Sekarang omzet perbulan bisa mencapai Rp 10 juta. Pekerja kami sudah bertambah jadi 7 orang,” jelas Kusman.

Baca juga: Tradisi dan Rumah Adat Suku Sasak

Baca juga: Sejarah MPL dan Pemenang MPL ID Sepanjang Season

Soal intervensi pemerintah, Marliadi pun mengungkapkan hal serupa. Sebetulnya, harga batik Sasambo tidak terlalu mahal. Terutama jika melihat proses pembuatannya yang cukup panjang. Karena itu, jika harus dijual dengan harga yang lebih rendah, perajin akan kesulitan.

Tak Punya Data

Lantas apa kata pemerintah? Dinas Perindustrian NTB pun mengakui, bahwa perhatian pemerintah kini memang sudah beralih dari Batik Sasambo. Dinas Perindustrian NTB pun mengaku tak memiliki data lengkap terkait sentra-sentra yang memproduksi Batik Sasambo. Berapa yang masih beroperasi. Berapa yang sudah gulung tikar. Tak ada data di dinas ini.


Namun begitu, Plt. Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengungkapkan, pemerintah kini mendorong para perajin lebih mandiri. Mereka terus didorong agar membuat inovasi produknya.

Nuryanti mengungkapkan, fokus pemerintah saat ini adalah produk khas NTB yakni tenun. Mengapa tenun? Selain memiliki corak bagus, kerajinan tenun sudah mengakar kuat di tengah masyarakat NTB. Karena itu, pemerintah sekarang memprioritaskan pengembangan tenun. Bahkan produk-produk tenun akan dibuatkan hak kekayaan intelektual (HKI) sebagai milik NTB.

”Membatik memang punya Indonesia. Cuma identitas kita tenun,” katanya.

Nuryanti meyakini, pelaku industri batik Sasambo saat ini sudah eksis. Pelaku industri sudah mampu berjalan dan banyak yang sukses. Sehingga pembinaan dialihkan ke tenun. Pemerintah pun sedang merancang, bagaimana produk tenun dijual dengan harga lebih terjangkau bagi semua kalangan.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Sandang dan Kerajinan Dinas Perindustrian NTB Yana Muliana menambahkan, upaya pengembangan batik Sasambo sudah dilakukan sejak lama. Sehingga, pihaknya yakin pelaku industrinya sudah mandiri.

Namun, dia tak menampik jika Batik Sasambo masih kalah saing dengan batik-batik dari Pulau Jawa. Apalagi coraknya belum melekat di benak masyarakat luas.

Baca juga: Asal Muasal Kuda Lumping

Baca juga: Beberapa Tarian Khas Lombok Nusa Tenggara barat

Karena itu, dia menyarankan agar para pelaku usaha tidak hanya sekedar menjual kain, tetapi juga menjual batik Sasambo sebagai produk fashion. Tidak hanya berupa baju, tetapi juga sepatu, tas dan lainnya.

Karena itu, harusnya, sedari mula, pemerintah mestinya mengembangkan tenun, yang jelas-jelas SDM sudah banyak di NTB.

Punya batik khas di NTB sebetulnya kata dia, sangat bagus. Namun, namun harus pula memerhatikan kondisi daerah. Bukan sekadar ikut-ikutan daerah lain. Atau latah.

Ia bercerita, awalnya program Batik Sasambo lahir, karena kala itu untuk memenuhi kebutuhan lokal seragam ASN yang sulit kalau hanya dipenuhi dari tenun. Sebab, memproduksi tenun ikat secara massal membutuhkan waktu panjang.

”Jadi saat itu, solusinya mengembangkan batik yang produksinya lebih cepat,” ungkapnya.

Dijelaskan, batik itu gambaran budaya suatu daerah. Hal inilah yang tidak ada di daerah NTB. Karena batik itu bukan budaya lokal NTB. Membangun industri batik juga tidak mudah. Butuh proses dan sumber daya yang mendukung di daerah.

”Jadi wajarh kalau hanya jadi euphoria sesaat saja,” katanya.

Karena memang tidak terlahir dari akar budaya sendiri, maka wajar jika batik Sasambo banyak kurangnya. Ketua Dekranasda NTB Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah pun mengakui hal tersebut.

Dia menjelaskan, kesulitan yang sampai saat ini masih dirasakan dalam mempromosikan Batik Sasambo, karena budaya membatik bukan merupakan budaya asli NTB. Sehingga butuh waktu untuk memperkenalkannya.

Untuk mengenalkan ke semua orang pun tidak mudah. Perlu proses yang lebih lama. Tidak seperti tenun yang sudah mendarah daging di masyarakat NTB

Baca juga: 3 Menu Sarapan di Sekitaran Lombok yang Bikin Nagih

Baca juga: Sinopsis Wire And Fire 2013, Menceritakan Seorang Gadis Muda yang Jatuh Cinta Kepada Pria yang Pemalu

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait