Tradisi dan Rumah Adat Suku Sasak

Pendidikan —Kamis, 22 Jul 2021 15:55
    Bagikan  
Tradisi dan Rumah Adat Suku Sasak
Tradisi dan Rumah Adat Suku Sasak (Sumber: pinterest)

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, tetapi hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Ada pula sedikit warga suku Sasak yang menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama "Sasak Boda

Kata Sasak berasal dari kata sak sak, artinya satu satu. Kata sak juga dipakai oleh sebagian suku Dayak di pulau Kalimantan untuk mengatakan satu. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sèsèk.

Baca juga: Sejarah MPL dan Pemenang MPL ID Sepanjang Season

Baca juga: Film India My Name Is Khan, tentang Cinta,Keluarga Dan Kepercayaan yang Menyayat Hati

Kata sèsèk berasal dari kata sesak,sesek atau saksak. Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu(sak sak), kemudian benang disesakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memukul mukulkan alat tenun. Uniknya suara yang terdengar ketika memukul mukul alat tenun itupun terdengar seperti suara sak sak dan hanya dilakukan dua kali saja.

Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku dipulau Lombok. Menurut Sumber Lisan, mengatakan bahwa dahulu bumi Lombok ditumbuhi hutan belantara, Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Sasak diartikan buluh bambu atau kayu yang dirakit menjadi satu. Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama (Decawanana): Sasak dan Lombok dijelaskan bahwa Lombok Barat disebut Lombok Mirah dan Lombok Timur disebut Sasak Adi.[2]

Suku Sasak yang mula mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa, Bima dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki.

Baca juga: Asal Muasal Kuda Lumping

Baca juga: Beberapa Tarian Khas Lombok Nusa Tenggara barat

Suku sasak memiliki adat istiadat yang cukup unik. Pengaruh Bali dan Melayu sangat terasa dalam adat istiadat suku ini. Pengaruh Bali datang dari Kerajaan Karangasem yang pernah menguasai Pulau Lombok selama kurang lebih 2 abad, sedangkan pengaruh Melayu berasal dari pendakwah Islam di gumi sasak. Adat dan budaya yang berasal dari pengaruh Bali seperti Gendang Beleq, Gamelan Tokol, Perang Topat dan Cakepung atau Cepung. Sementara adat dan budaya yang berasal dari pengaruh Melayu seperti Gambus, Rudat, dan Cilokaq Sasak.

Adat istiadat suku sasak juga dapat disaksikan pada saat saat acara pernikahan mulai dari melakiran gadis sampai nyongkolan. Gadis/dedare sasak apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki/ terune maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki yang dikenal dengan sebutan merariq atau pelarian.

Baca juga: 3 Menu Sarapan di Sekitaran Lombok yang Bikin Nagih

Baca juga: Sinopsis Wire And Fire 2013, Menceritakan Seorang Gadis Muda yang Jatuh Cinta Kepada Pria yang Pemalu

Caranya cukup sederhana, gadis/dedare pujaan tidak memberitahukan kepada kedua orangtuanya jika ingin menikah. Gadis/dedare tersebut itu harus dibawa oleh pihak laki-laki untuk disembunyikan sementara waktu di rumah pihak keluarga dari laki-laki/terune. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya (mencuri dalam artian si gadis sudah siap menikah dengan sipencuri) biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman dari pihak keluarga laki-laki. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki. Tentu menikahi gadis dengan meminta izin kepada orang tuanya (redaq) lebih terhormat daripada mencuri gadis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tetapi proses seperti ini sudah sangat jarang ditemukan karena kebiasaan orang sasak lebih dominan mencurinya supaya tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak disetujui orang tua gadis atau keterbatasan kemampuan dalam hal materi karena proses "redaq" biasanya menghabiskan biaya yang lebih besar daripada melarikan gadis (merarik) tanpa izin.

Dalam proses pencurian gadis, setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. Nyelabar, istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orang tua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.

Baca juga: 5 Rekomendasi Pusat Oleh-Oleh khas Lombok Yang Wajib Dikunjungi, Paling Lengkap dan Favorit

Baca juga: Yuk Cobain, Makanan Hitz di Drama Korea: Resep Jajangmyeon Korea Halal Yang Mudah Dibuat

Rombongan nyelabar terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan pakaian adat (dodot). Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekadar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.

Ciri khas Suku Sasak yang terkenal unik yakni ketika sepasang suami istri diharuskan tidur terpisah. Hal ini diwajibkan bagi semua pasangan suami istri yang telah memiliki anak dan berkeluarga. Laki-laki tidur di luar rumah, sedangkan istri di dalam rumah, namun jika suami memiliki kepentingan maka bisa memasuki dengan permisi terlebih dulu.

Suami istri diperbolehkan tidur di dalam rumah bersama hanya ketika belum memiliki anak. Mengingat setiap rumah di pemukiman Suku Sasak hanya terdiri satu ruang tidur, satu dapur, dan semua ruang berjumlah satu.

Hampir sama seperti pasangan suami dan istri di dalam sebuah keluarga adat Sasak. Salah satu Kepercayaan Suku Sasak yang masih dilakukan dengan tujuan meneruskan garis keluarga yakni perlakuan mereka terhadap anak laki-lakidan perempuan yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan mengatur tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.
Anak perempuan sejak bayi hingga anak-anak bisa tidur bersama ibunya, namun ketika di usia remaja, Ia harus tidur sendiri dengan diberi sekat. Sedangkan anak laki-laki tidak diharuskan tidur di luar ketika mereka telah menginjak usia remaja bersama ayah.

Hasil kesenian Suku Sasak bisa dilihat dari kain yang diproduksi sendiri oleh para perempuan Suku Sasak dengan motif yang khas. Di balik hasil kesenian tersebut, semua wanita Suku Sasak ternyata diharuskan untuk bisa menenun. Bahkan hal tersebut dijadikan sebagai persyaratan sebelum menikah.

Di setiap rumah keluarga Suku Sasak juga diwajibkan tersedia alat tenun yang khusus terbuat dari kayu. Hal ini berguna bagi para wanita untuk membuat alas serta selimut yang dipakai pada saat malam pertama.

Satu hal yang menjadi kearifan lokal Suku Sasak yakni untuk bersikap ramah kepada para tamu yang mengunjungi desa mereka. Meskipun pada dasarnya masyarakat Suku Sasak masih memegang teguh nilai dan kebiasaan tradisional. Tetapi mereka berpikiran lebih terbuka, buktinya masyarakat adat mampu berbicara tiga bahsa.

Hal tersebut dilakukan untuk berkomunikasi dengan turis asing dan lokal, mereka menguasai Bahasa Indonesia dan Inggris. Sedangkan untuk percakapan sehari-hari dengan warga lokal mereka mengunakan bahasa asli Sasak. Penghormatan pada tamu ini telah dianjurkan dan diterapkan secara turun temurun dari nenek moyang.

Menariknya, masyarakat Sasak masih menjunjung tinggi nilai dan adat istiadat di tengah gempuran teknologi. Mereka menempati rumah adat yang masih tradisional, di mana seluruh material bangunan rumah terbuat dari alam. Begitu tradisionalnya, maka jangan harap Anda akan menemukan peralatan elektronik di rumah mereka.

Rumah Adat Suku Sasak, terdapat dua jenis yakni Bale Tani dan Lumbung. Bale Tani adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat tinggal, dan Lumbung adalah bangunan yang biasa digunakan sebagai tempat menyimpan padi hasil panen atau untuk menyimpan segala kebutuhan

Baca juga: 7 Oleh Oleh Khas Lombok Yang Wajib di Bawa Pulang, Ada Makanan Hingga Kerajinan Tangan

Baca juga: 5 Pantai Di Lombok dengan Senja Terindah

Rumah Adat Sasak, Bale Tani hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral dan profan duniawi secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang dan sebaginya.

tipe rumah adat sasak
Rumah adat milik suku Sasak terbagi menjadi 3 tipe bangunan.

3 tipe bangunan tersebut adalah Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani.

Bale Bonter adalah rumah yang dimiliki oleh pejabat desa, Bale Kodong adalah rumah untuk para orang tua yang ingin

menghabiskan masa tuanya, dan Bale Tani adalah rumah orang yang berkeluarga.
Bale Tani terbuat dari kayu dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan atap dari daun alang-alang kering.

Bale Tani terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Bale Dalam dan Bale Luar.

Bale Tani terbagi menjadi dua bagian yaitu Bale Dalam dan Bale Luar. Ruangan Bale Dalam biasanya diperuntukkan untuk anggota keluarga wanita, yang sekaligus merangkap sebagai dapur. Sedangkan ruangan Bale Luar diperuntukkan untuk
anggota keluarga lainnya, dan juga berfungsi sebagai ruang tamu.

Kotoran kerbau digunakkan untuk membersihkan lantai dari debu dan membuat lantai terasa lebih halus dan kuat.

Suku Sasak juga percaya jika kotoran kerbau dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis untuk penghuni rumah.

Biasanya tradisi ini dilakukan setiap seminggu sekali atau pada waktu-waktu tertentu sebelum dimulainya upacara adat.

Lantai rumah yang telah digosok dengan kotoran kerbau kemudian dicampur dengan air, lalu disapu dan digosok dengan batu.
Pasti kalian bertanya apakah tidak bau?, nyata nya tidak tercium aroma bau sama sekali

dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

Anyaman bambu yang ringan ternyata kokoh, kuat, dan tahan akan guncangan.

Sementara itu, atap rumah adat ini terbuat dari alang-alang yang dibentuk menyerupai gunungan.

Sama seperti anyaman bambu, alang-alang merupakan bahan yang ringan dan tahan akan guncangan.

Kedua bahan tersebut membuat rumah adat ini dipercaya dapat menahan guncangan gempa.

Selain bangunannya yang terbuat dari bahan-bahan yang ringan. Rumah adat suku sasak juga memiliki pondasi yang tidak mudah roboh.Agar tahan terhadap guncangan, rumah adat Suku Sasak juga ditopang oleh balok penyangga dari bambu yang dikaitkan dengan sistem sambung pasak. Pintu masuk rumah adat ini juga unik, sengaja dibuat serendah mungkin sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.

Rumah adat Suku Sasak juga punya sirkulasi udara yang cukup baik sebab dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hal ini akan membuat penghuninya tetap merasa sejuk meski berada di dalam rumah.

Bagaimana apakah ingin mencoba untuk tinggal disana? Pasti seru untuk mendapatkan pegalaman

Baca juga: Kisah Wali Nyatoq dan makam keramat nya

Baca juga: Sinopsis Antrum 2019 Menceritakan Tentang Perjalanan Kakak Beradik

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait