Beberapa Tarian Khas Lombok Nusa Tenggara barat

Pendidikan —Kamis, 22 Jul 2021 14:27
    Bagikan  
Beberapa Tarian Khas Lombok Nusa Tenggara barat
Beberapa Tarian Khas Lombok Nusa Tenggara barat (pinterest)

LOMBOK,DEPOSTLOMBOK
Berwisata ke pulau Lombok tidak hanya menikmati keindahan wisata bahari dan alamnya saja, melainkan mengenal pulau Lombok melalui sejarah dan peninggalan suku Sasak yang mendiami pulau Lombok. Salah satu peninggalan suku sasak yang masih bisa anda jumpai sampai saat ini yakni tarian tradisionalnya.
Suku Sasak di Pulau Lombok dikenal kuat memegang tradisi nenek moyangnya. Dalam hal seni, pemudanya jago bertarung, pemudinya jago menenun. Gamelan Sasak adalah salah satu instrumen musiknya, sementara mereka juga suka menari. Banyak tarian tradisional Sasak, sebagian ada dalam daftar di bawah.

Baca juga: 3 Menu Sarapan di Sekitaran Lombok yang Bikin Nagih

Baca juga: Sinopsis Wire And Fire 2013, Menceritakan Seorang Gadis Muda yang Jatuh Cinta Kepada Pria yang Pemalu


1.Tarian gandrung


Tarian Gandrung merupakan tarian yang dilakukan secara berpasangan antara penari wanita dan pria. Tarian Gandrung mirip dengan tarian Gandrung dari Jawa Barat dan Bali tetapi ada beberapa perbedaan yang menjadikan sebagai ciri khas tarian Gandrung dari sukus Sasak yakni kostum, gerakan, dan penyajian pertunjukkan. Tarian ini awalnya menjadi hiburan dari prajurit setelah pulang berperang dari medan perang tetapi berjalannya waktu tarian ini dijadikan sebagai tradisi masyarakat suku Sasak.

Baca juga: 5 Rekomendasi Pusat Oleh-Oleh khas Lombok Yang Wajib Dikunjungi, Paling Lengkap dan Favorit

Baca juga: Yuk Cobain, Makanan Hitz di Drama Korea: Resep Jajangmyeon Korea Halal Yang Mudah Dibuat

2.Tarian oncer


Tarian Oncer biasanya akan dibawakan oleh tiga kelompok penari pria, masing-masing kelompok adalah penari kenceng, penari petuk, dan penari gendang. Dimana penari kenceng terdiri dari 6 – 8 orang membawa kenceng, 1 orang membawa petuk, dan 2 orang membawa gendang. Tarian ini merupakan tarian yang diciptakan oleh Muhammad Tahir yang berasal dari desa Puyung, kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah tepatnya pada tahun 1960 M.

Baca juga: 7 Oleh Oleh Khas Lombok Yang Wajib di Bawa Pulang, Ada Makanan Hingga Kerajinan Tangan

Baca juga: 5 Pantai Di Lombok dengan Senja Terindah

3.Tarian gendang balek


Tarian Gendang Beleq merupakan tarian yang wajib dilakukan oleh masyarakat suku Sasak dalam acara Budaya dan acara besar lainnya. Dinamakan tarian Gendang Beleq karena penari membawa gendang yang besar yang dalam bahasa Sasak “Beleq” yakni Besar. Tarian ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Selaparang yang pernah menguasai sebagian wilayah timur pulau Lombok.Tarian ini awalnya digunakan oleh para Mubaliq dalam berdakwah untuk menyebar agama Islam di pulau Lombok, dimana saat itu jika tarian ini dipertunjukan maka akan banyak warga yang berkumpul dan setelah berkumpulnya warga kemudian para Mubaliq akan memberikan pengetahuan Islam kepada warga. Kemudian pada masa Kerajaan Selaparang.

tarian ini digunakan oleh Kerajaan untuk melepaskan prajurit yang akan bertempur di medan perang.Jika anda ingin melihat secara langsung salah satu atau lebih dari tarian tradisional suku Sasak diatas, sebaiknya anda datang saat Hari Besar Islam atau festival besar lainnya yang diadakan di pulau Lombok. Biasanya pada acara-acara tersebut akan ditampilkan beberapa tarian tradisional suku Sasak.

Baca juga: Sinopsis Antrum 2019 Menceritakan Tentang Perjalanan Kakak Beradik

Baca juga: Kesehatan, Melawan Infeksi Pakai Kunyit

4. Tari Buja Kadanda


Tarian NTB pertama adalah Buja Kadanda, tarian prajurit asli Bima. Penggambaran dua prajurit yang sedang berperang. Dua orang membawakannya dengan berpakaian prajurit bersenjata tombak atau tongkat. Mereka menari dengan gerakan bela diri. Sehingga dibutuhkan keahlian khusus untuk menarikannya.
Tarian Buja Kadanda diawali dengan iringan tabuhan musik. Gendang, Gong, Serunai dan Tawa-tawa adalah alat musik tradisional yang menjadi pengiringnya. Mengalun dalam dua irama yang berbeda. Bertempo cepat ketika mengiringi tarian, dan bertempo lambat saat mengawali dan mengakhiri tarian.

Baca juga: 7 Menu Ini Mesti Disajikan di Hari Idul Adha

Baca juga: 5 Orang Pemilk Garis Tangan ini Diprediksikan Akan Kaya Raya di Masa Depan

5.Tari lenggo


Kesenian dalam Istana Bima atau Asi Mbojo berkembang cukup pesat di masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, sultan Bima yang kedua (1640-1682 M). Mpa’a adalah istilah lokal untuk menyebut seni tari. Mpa’a Lenggo adalah salah satu tarian klasik Kesultanan Bima yang bertahan hingga saat ini.
Tari Mpa’a Lenggo ada dua macam, Lenggo Mone (Lenggo Melayu) dan Lenggo Siwe (Lenggo Mbojo). Lenggo Mone hadir ke Istana Bima melalui para mubaligh dari Sumatera Barat. Oleh karena itu disebut juga Lenggo Melayu, sementara itu disebut Lenggo Mone karena ditarikan oleh penari pria. Mone berarti pria.
Tari Lenggo selanjutnya adalah Lenggo Siwe, karya dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin dari Lenggo Melayu. Penarinya adalah Sampela Siwe (gadis) sehingga dinamakan Mpa’a Lenggo Siwe. Karena pembuatnya sultan sebagai dou Mbojo, maka tarian ini terkenal juga dengan nama Mpa’a Lenggo Mbojo.

Baca juga: Asal Usul Nama Suku Sasak, Penduduk Asli Lombok

Baca juga: Sate di Lombok Paling Enak? Ya Sate Bulayak! Begini Cara Membuatnya!

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait