Asal Usul Nama Suku Sasak, Penduduk Asli Lombok

Pendidikan —Rabu, 21 Jul 2021 11:03
    Bagikan  
Asal Usul Nama Suku Sasak, Penduduk Asli Lombok
Asal Usul Nama Suku Sasak, Penduduk Asli Lombok/pinterest

LOMBOK,DEPOSTLOMBOK

Sejarah Lombok sepertinya tidak dapat dipisahkan dari silih bergantinya kekuasaan dan peperangan pada masa itu. Baik itu peperangan antar kerajaan di Lombok sendiri, maupun peperangan yang ditimbulkan oleh perluasan kekuasaan dari wilayah lain.

Baca juga: Sate di Lombok Paling Enak? Ya Sate Bulayak! Begini Cara Membuatnya!

Baca juga: Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak

Konon, pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan di Medang (Mataram Kuno), telah banyak pendatang dari Pulau Jawa ke Pulau Lombok. Banyak diantara mereka kemudian melakukan pernikahan dengan warga setempat sehingga keturunan-keturunan selanjutnya dikenal sebagai suku sasak.

Menurut seorang sejarawan, “Sasak” secara etimologi, berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan “shaka” yang berarti “leluhur”. Dengan begitu beliau menyimpulkan bahwa sasak memiliki arti “pergi ke tanah leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah orang Jawa.

Baca juga: 5 Tempat Wisata di Lombok yang Bisa Bikin Awet Muda

Baca juga: Makanan Khas Lombok Babelung, serta Cara Pembuatnya

Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa, pada perkembangannya, aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah melahirkan tradisi kesusasteraan Sasak.

suku asli lombok/pinterest

Namun ada juga yang beranggapan kata Sasak berasal dari kata “sak sak” yang artinya “satu satu”. Kaum wanita dari etnis Sasak dikenal pandai menenun. Mereka telah diajari keahlian menenun sejak usia dini, yaitu sekitar 9 atau 10 tahun. Perempuan yang pandai menenun akan dikategorikan sebagai wanita dewasa dan sudah siap menikah. Kegiatan menenun ini disebut sebagai Sèsèk.

Baca juga: Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak

Baca juga: 5 Tempat Wisata di Lombok yang Bisa Bikin Awet Muda

Kata sèsèk ini berasal dari kata “sesak” atau “sesek”. Menenun khas suku Sasak dilakukan dengan cara memasukkan benang satu-persatu yang disebut dengan sak sak. Lalu benang tersebut dirapatkan hingga sesak dan padat.

Proses ini dilakukan agar benang terbentuk menjadi kain. Caranya adalah dengan memukul-mukul alat tenun tradisional suku Sasak. Suara memukul-mukul itu terdengar seperti suara “sak sak”. Tahapan ini dilakukan sebanyak 2 kali ketika menenun. Uniknya, proses menenun yang menjadi kebanggan masyarakat asli Lombok inilah yang kemudian dijadikan nama suku atau etnis masyarakat.

Baca juga: Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak

Baca juga: 5 Tempat Wisata di Lombok yang Bisa Bikin Awet Muda

Penyebutan nama Sasak pertama kali tercatat dalam Prasasti Pujungan yang ditemukan di Tabanan, Bali. Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-11. Sementara itu, dalam Kitab Negara Kertagama, kata Sasak menjadi satu dengan Pulau Lombok, yaitu Lombok Sasak Mirah Adhi.

 Kitab tersebut memuat tentang kekuasaan dan pemerintahan Kerajaan Majapahit. Masyarakat Majapahit yang menggunakan bahasa Kawi mengartikan Lombok Sasak Mir

Baca juga: Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak

Baca juga: 5 Tempat Wisata di Lombok yang Bisa Bikin Awet Muda

Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku dipulau Lombok. Menurut Sumber Lisan, mengatakan bahwa dahulu bumi Lombok ditumbuhi hutan belantara, Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Sasak diartikan buluh bambu atau kayu yang dirakit menjadi satu. Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama (Decawanana): Sasak dan Lombok dijelaskan bahwa Lombok Barat disebut Lombok Mirah dan Lombok Timur disebut Sasak Adi.

Suku Sasak yang mula mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa, Bima dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki.ah Adhi ksebagai kejujuran adalah permata kenyataan yang baik.(NN)

Baca juga: Sate di Lombok Paling Enak? Ya Sate Bulayak! Begini Cara Membuatnya!

Baca juga: Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait