Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak

Kuliner —Selasa, 20 Jul 2021 22:15
    Bagikan  
Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak
Sate Bulayak: Dibalik Rasanya yang Enak, Ada Sejarah dan Filosofi yang Menyentak/pinterest

LOMBOK, DEPOSTLOMBOK

 Acap kali di era globalisasi dan teknologi yang semakin canggih ini, kita dibawa oleh arus modernisasi tanpa kenal sejarah yang mendirikan suatu objek dahulunya. Mungkin sebagian pembaca ada yang mengelak, kukuh mempertahankan ide bahwa ”Oh, saya tidak demikian”. Namun, bagaimanapun, sebagai masyarakat Indonesia yang mencintai keragaman nusantara, membuat kita seyogyanya mengenal nilai, pesan, dan filosofi warisan nenek moyang kita. Semata-mata agar tidak tergerus zaman, tidak diambil orang, dan senantiasa dijadikan pegangan nilai hidup di dalam kesehari-harian.

Baca juga: 5 Tempat Wisata di Lombok yang Bisa Bikin Awet Muda

Baca juga: 5 Sate Khas Lombok yang Wajib Kamu Coba

Demikiannya dengan keunikan Sate Bulayak khas Lombok. Kelezatannya yang tak kalah dengan sate khas nusantara lainnya, menjadikan ia ide brilian untuk menggali apa makna tersembunyi di balik eksistensinya.

Sate Bulayak telah termahsyur di kalangan masyarakat Lombok. Dan oleh masyarakat Lombok sekitar sering dipakai sebagai bagian dari upacara adat mereka.

Baca juga: Misteri Tuselak Hantu Asal Lombok yang Mulai Terlupakan

Baca juga: Pelecing Kangkung, Kuliner Sederhana Khas Lombok penggoyang Lidah

Meski demikian, penampakan Sate Bulayak ini cukup memiliki inovasi dan memegang daya tarik yang cukup berbeda antara yang dulu dengan Sate Bulayak yang sekarang, yaitu dahulu Sate Bulayak disajikan bersama saur (parutan kepala), ada juga yang dilengkapi dengan kacang kedelai, bahkan ada yang ditemani dengan urap jambah. Aneka sajian itu pun dulunya disimpan di sebuah wadah dulang, kemudian ditutupi dengan tebolaq yang merupakan sebuah tutup saji makanan khas Lombok dengan dihiasi kaca cermin dan keke (kerang).

sate Bulayak/ Sumber foto pinterest

Baca juga: Makanan Khas Lombok Babelung, serta Cara Pembuatnya

Baca juga: Di Lombok, Vila Hantu Dijadikan Tempat Wisata

Kaca cermin dan kerang ini sendiri memiliki nilai tersendiri. L. Pangkat Ali, Pranata Humas Pelaksana Lanjutan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, mengungkapkan bahwa kaca cermin bermakna peringatan saat menyantapnya. Maksudnya ialah, jangan sampai terlalu kenyang jika Anda menyantap Sate Bulayak, karena bagaimanapun yang berlebihan itu tidak baik dan dapat mendatangkan penyakit. Di saat memakannya pun, sebagaimana adab ketika makan, kita mesti dan seyogyanya bersyukur. Karena bagaimanapun, setiap makanan itu didatangkan dari kasih Sang Khalik, hal ini akan mengingatkan kita kepada kematian, atau hidup yang fana.

Dapat dikatakan, mencicipi kelezatan Sate Bulayak khas Lombok ini terasa hidup di dunia berdinding surgawi. Proses penyajiannya yang unik dibandingkan sate nusantara lainnya, menjadikan Sate Bulayak sebagai warisan dan nilai tersendiri bagi Indonesia.

Baca juga: Misteri Tuselak Hantu Asal Lombok yang Mulai Terlupakan

Baca juga: Pelecing Kangkung, Kuliner Sederhana Khas Lombok penggoyang Lidah

Cara menyantapnya pun bisa dibilang anti-mainstream. Wah, kenapa itu? Karena, jika Anda biasanya menyantap sate dengan sendok atau garpu, kali ini Bulayak menawarkan agar Anda mencocolnya sendiri, dengan terlebih dahulu membuka lilitan lontong bulayak yang dibungkus dengan daun kelapa! Bukan daun pisang. Baru kemudian Anda dapat mencocolnya dengan saus kacang nikmat, dan barulah merobek daging satenya. Hapz! Hmm, unik nggak itu?

Asal usul Sate Bulayak sendiri diyakini bermula dari pembuatannya oleh masyarakat di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, hingga kemudian semakin banyak dijajakan di berbagai objek wisata di sekitaran kecamatan ini, di antaranya seperti: di area Taman Narmada, Suranadi, hingga sampai pula ke area pura-pura di saat Hari Raya umat Hindu bersemarak, layaknya Pura Lingsar, dan tidak terkecuali di sekitaran Makam Loang Baloq. Waktu bergegas, Sate Bulayak semakin mencapai kegemilangannya di kawasan Pantai Senggigi. Hingga sampai sekarang pun semakin digandrungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan dari mancanegara.(Dyah)

Baca juga: Misteri Tuselak Hantu Asal Lombok yang Mulai Terlupakan

Baca juga: Pelecing Kangkung, Kuliner Sederhana Khas Lombok penggoyang Lidah

 

 


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait